Selasa, 15 September 2015

Kuliah di Luar Negeri yang Tertunda part 1

Pernahkah kalian punya mimpi? Dan bagaimana jika mimpi itu tak mampu diraih? Padahal hanya sedikit lagi? Yah, this story based on true story. Akhir tahun 2012, saya dan mantan pacar saya (*ehm..sekarang sudah jadi suami saya) berencana untuk mengambil kuliah ke luar negri bersama. Waktu itu dia sudah menjadi dosen di salah satu universitas negeri. Sedangkan saya baru saja lulus disumpah menjadi seorang dokter.

Mantan saya itu punya motivasi yang sangat tinggi karena memang ini ketiga kalinya dia menunda kuliah keluar negeri karena sesuatu hal. Persyaratan seperti Paspor, ijazah dan transkrip yang sudah ditranslate, Toefl ITP, recomendation letter, bahkan sudah kursus mandarin pula karena negara yang dituju adalah negara Taiwan. Amunisi sudah lengkap, tinggal waktunya apply ke universitas yang dituju.

Suatu hari mantan saya mendapat kabar bahwa universitas yang dituju membuka wawancara di Yogyakarta, tepatnya di UGM..Berbekal amunisi yang dipunya berangkatlah dia ke Jogja. Dengan terengah2 mengejar kereta dan bis ke sana mantan saya sampai di sana tepat setengah jam sebelum pendaftaran ditutup.

Setelah penyerahan berkas dan wawancara yang cukup hectic (karena saat itu mantan saya sempat numpahin gelas ke baju sang prof :)) mantan saya akhirnya diterima dan mendapat LoA alias Letter of Acceptance unconditional di Master of Biomedical Informatic Taiwan Medical University alias TMU ,dia tetap diminta untuk mendaftar secara online untuk resminya.

Yah..tentu saja dia sumringah..saya pun menyambutnya gembira...Lalu saya?? Disitulah diskusi panjang bermula..Ada keinginan untuk mengikutinya tapi mengambil jurusan apa? Saya benar2 seorang fresh graduate yang benar fresh tak tahu apa2.

Akhirnya dengan beberapa pertimbangan apply lah saya ke Master of Humanities and Medicine, dan mengambil major di bidang etika. Saat itu saya juga baru saja memulai debut karir saya sebagai dosen non pns di salah satu universitas negri sama seperti suami saya.

Tinggal 1 bulan waktu pendaftaran dan saya belum punya amunisi apa2. Disitulah saya kejar tayang menyiapkan semuanya. Mulai buat paspor (untung saat itu sudah mulai sistem online), tes Toefl ITP ( yang hasilnya masih mengkis2 jauh dari perkiraan), translate ijazah dan transkrip, sampai cari recomendation letter, sudah begitu masih harus buat motivation letter yang berisi tentang motivasi mengambil bidang tersebut. 

Ketika apply secara online saya sudah pasrahlah..secara semua serba mendadak. Ketika menunggu waktu wawancara (entah by phone atau skype) saya sudah deg2an. Secara speaking saya masih amburadul. Tapi bismillah sajalah, yang penting optimis. Demi cita2..dan cinta..hehehe :)

Well, lupakan sejenak mengenai kuliah di luar negeri. Juni 2013, saya dan mantan saya akhirnya benar2 sah menjadi sepasang suami istri. Ciee ;p. Well, pokoknya begitulah saya kira cerita tentang romansa2 itu nggak penting untuk dijadikan konsumsi publik. Every couple have their story, right?:)

1 bulan kemudian keluarlah pengumuman dari TMU dan beginilah hasilnya :
Alhamdulillah kami diterima. Well, puji syukur kepada Allah. Mungkin inilah kado terindah bagi pernikahan kami.

Tapi ternyata perjuangan tidak berhenti hingga disini, melainkan ada banyak aral dan rintangan yang menghadang. Tapi sementara, bersambung dulu ya..nanti saya lanjutkan di part 2 :)

Kembalinya Rani Alzena

Well..sudah 2 tahun lebih meninggalkan blog ini. Kini saatnya untuk kembali..*halah. Ada banyak hal yang telah terjadi selama 2 tahun ini dari menikah, hamil, melahirkan, punya anak, hingga resign dari kantor.

Yah..sudah 3,5 bulan menjadi ibu rumah tangga yang ternyata tak kalah rempongnya dengan ibu yang bekerja.

Sambil nungguin si kecil yang bobok nyenyak, nggak ada salahnya kan nulis2 di blog lagi. Merangkum 2 tahun yang berlalu sebagai kenangan, syukur2 bisa dijadikan bahan berbagi dan pembelajaran, hehehe. 

Yeah.. rani alzena is coming. With new life, new story of course. Mungkin cerita2 ke depan bukan lagi berkisah tentang puisi2 yang absurd, hehehe. Karena melow dan galau cukup diadukan ke Allah dan suami aja tentunya :)

Yap, semoga masih bisa selalu bisa memberi manfaat melalui tulisan di blog ini, orang bilang yang terucap akan sirna dan yang tertulis akan abadi. Bismillah :)

Selasa, 17 Desember 2013

Kisah Tentang Gigi (Part 1) -Senyum Setengah Hati-



“Lebih baik sakit hati, daripada sakit di gigi….” :D

Plesetan lagu dangdut yang entah lupa siapa penyanyinya, cocok banget jadi backsound cerita kali ini.  Of course bagaimana tidak. Orang sakit hati  paling-paling cuma nangis bombay , sambil nunggu waktu dan yakin bahwa time will heal every pain. Tapi sakit gigi? Oh, nyerinya sungguh menyayat hati, makan tak enak tidur tak nyenyak, emosi labil, apalagi jika tidak  periksa ke dokter gigi? Benar-benar menyiksa diri.

Berawal dari nyeri denyutan yang saya rasakan beberapa bulan lalu, tepatnya di bagian kanan bawah. Nyeri yang hilang timbul itu tidak saya gubris dan enggan saya periksakan ke dokter gigi. Maklum, cukup punya fobia masa kecil sama dokter gigi :D. Tapi ternyata, Allah punya rencana lain. Bulan ini, nyeri berdenyut semakin sering terasa, menjalar hingga ke telinga dan mata. Kalau menurut anatominya, tepatnya di nervus V ( trigeminalis). 

Saya yang pada awalnya tidak terlalu suka mengkonsumsi obat, harus terpaksa mengkonsumsi anti nyeri. Tapi dalam waktu 3 hari, nyerinya tidak berkurang, malah semakin menghebat dan mampu membuat saya nangis bombay

Baiklah, akhirnya mau tak mau saya harus ke dokter gigi. Gerimis yang mengguyur langkah sore itu tak terasa dibandingkan dengan sakit gigi yang harus dirasa. Pergilah saya ke dokter gigi yang dulu semasa koas adalah guru saya. Setelah mengantri sejenak dan diperiksa, saya disarankan untuk foto Panoramic.

Yup, foto untuk mengetahui letak, susunan, dan kemungkinan ada kelainan pada gigi.  Setelah melalui serangkaian proses foto rontgen, akhirnya hasil foto panoramic ada ditangan saya. Dan, ternyata, penyebab dari nyeri hebat beberapa bulan ini adalah adanya gigi molar 3 atau biasa disebut gigi bungsu yang tertanam di rahang kanan bawah atau lebih sering disebut dengan impaksi.

Setelah berkonsultasi dengan dokter gigi, saya dirujuk ke dokter spesialis bedah mulut dan direncanakan untuk operasi minor atau sering dikenal dengan istilah odontektomi keesokan harinya. Okelah, segera, cito, semakin cepat semakin baik. Meskipun terbayang lagi fobia bor dan alat pencabut gigi lainnya.

Jadwal operasi pun ditetapkan. Sebelumnya saya ditanya lebih dahulu, apa sudah makan, keadaan fit, apa punya penyakit sistemik atau tidak. Setelah dicek tekanan darah dan dirasa ok, dimulailah proses odontektomi dalam ruangan operasi minor itu.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaujTB25z4ILU8BaXZ3pNZMAFtoDN_cpTU4MkaM8Y-wcI6dPaP_pN037jwajvOkfUSsFPjyEbaCh9ScJjErHoN4GVaZhvlm2TYNFDWXMq_r6jUYB8sMKPzGmgzo2PhT69awPf6DPB6mv9s/s1600/gigi+ladybird.jpg

Lokal anastesi dimulai, gusi dan beberapa bagian di daerah bukal( pipi ) saya ditusuk-tusuk dengan spuit berisi lidokain. Cukup nyeri, tetapi saya tetap bertahan. Sempat terlintas novel “ Dahlan Iskan” yang berjudul “ Ganti Hati”. Di situ beliau bercerita bagaimana ketahanan dan kesabaran beliau menghadapi rasa nyeri agar segera sembuh. Dan perlahan saya menciptakan sugesti. Taka apa, ini hanya sebentar saja. :D

Sang dokter spesialis bedah mulut mulai melakukan aksinya ketika dirasa saya sudah tidak berespon pada sentuhan dan tusukan. Mulai diincisi lah gusi saya, dan dibor tulang mandibula, dan sebagian gigi dipotong karena ada perlekatan dengan gigi di depannya. Sesekali saya meringis karena masih bisa merasakan nyeri, yang membuat sang dokter berhenti sejenak meskipun melanjutkan kembali operasi hingga tuntas. Never give up, mungkin itu yang diucapkan dalam hati beliau. :D

Setengah jam berlalu, akhirnya sang gigi molar 3 berhasil juga terlepas dari peraduannya. Sang dokter membersihkan fragmen atau pecahan tulang, mengirigasinya, kemudian menjahitnya. Ah, legaaa… Tetapi, tunggu. setelah beres dengan urusan gigi molar kanan, ternyata ada lagi urusan dengan gigi geraham/molar kiri.

Gigi geraham 1 kiri bawah yang gagal pencabutan hingga hanya menyisakan akar itu pun akhirnya harus ikut dicabut. “ Sekalian sakitnya” begitu kata sang dokter. What?? Baiklah kalo begitu, akhirnya dengan pasrah saya menyerahkan akar(radix) gigi geraham saya itu. Sedih juga harus berpisah dengannya, hehehe..lebaay.

Pencabutan radix dengan separasi (pemisahan gigi) ini berlangsung cukup singkat dan tidak sesukar pengambilan gigi yang impaksi. Setelah dibersihkan gusi dijahit, dipasang tampon, dan saya diperbolehkan pulang dengan buah tangan resep dari dokter.

Malamnya pipi saya bengkak, darah mengalir terus menerus, dan yang menyiksa adalah untuk sekedar minum air putih apalagi makan pun sakitnya tidak terkira. Karena tidak tahan menahan dahaga akhirnya saya meminta tolong  suami membelikan “ sedotan” dan sereal agar perut yang keroncongan dari tadi sedikiti terisi. Nyeri telan dan sukar tidur pun menjadi sajian yang harus saya nikmati. Lagi-lagi saya teringat tentang semangat sang Dahlan Iskan mengatasi nyeri setelah operasi.
Hari kedua, gusi saya masih mengeluarkan perdarahan, meskipun  sudah banyak berkurang. Setidaknya saya sudah dapat makan bubur. Dan yang paling menyedihkan, di kondisi seperti ini saya nyidam pengen makan “kacang telur”. :D:D. Begitulah, hari demi hari saya lalui dengan meminum antibiotic selama 3 hari, antiinflamasi dan analgetik untuk mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri. Obat kumur pun saya gunakan agar tidak ada bakteri-bakteri di sudut mulut karena pencapaian sikat gigi tidak sesempurna biasanya.

Dua minggu terlalui, nyeri sudah mulai berkurang. Analgetik tidak saya minum rutin lagi, tetapi hanya jika diperlukan. Tetapi, sebuah tragedi terjadi. Rasa nyeri hebat, bahkan melebihi rasa nyeri sebelum operasi datang lagi. Analgetik tingkat rendah sudah tidak mempan lagi. Rasa terbakar dan nyeri menjalar di rahang bawah ke telinga , mata, hingga kepala. Dan parahnya rasa nyeri itu muncul di sore hingga malam hari di saat istirahat atau saat pagi ketika akan masuk kantor. Analgetik dengan sedasi pun mulai saya konsumsi dan sedikit berkurang nyerinya meskipun hanya sementara.  Berbagai fikiran dan self diagnosis pun mulai menghantui. Apakah neuralgia trigeminalis? Terjadi neuropraxia yang membutuhkan mikrosurgeri? Apakah ada infeksi, dry socket? Haruskah jahitan dibuka lagi? Dioperasi dan dibor lagi? Dan berbagai macam kemungkinan membayang di kepala saya. Kadang saya tersenyum,mungkin seperti inilah yang dialami oleh pasien, orang yang sakit. Penasaran dengan sakit yang dideritanya. Tapi tentu saja hanya sesekali saya tersenyum, karena nyeri berdenyut dan rasa terbakar membuat saya lebih memilih diam dan hanya berbicara sesekali dengan suami. Sering kali suami menggoda, bahwa akhir-akhir ini senyum saya adalah :senyum setengah hati”. Walah.. :D

Belum lagi, seringkali saya ditertawakan oleh saudara, teman, atau keluarga “ alah, dulu saya cabut gigi 6 saja tidak apa-apa. Kamu cuma cabut satu gigi saja kok kaya orang habis melahirkan”. Lagi, saya cuma senyum setengah hati, sambil membayangkan gimana ya nyeri setelah melahirkan karena memang belum berpengalaman merasakan sendiri.

Tetapi pada akhirnya saya pasrah. Jika memang harus dilakukan tindakan agar saya dapat sembuh, insya allah akan jalani. Saya mulai menyusun lagi jadwal untuk kontrol ke dokter gigi. Bersiap dengan kondisi terburuk dan berharap pada kondisi terbaik. Lagi, saya mencatut doa Dahlan Iskan yang berupa kepasrahan ketika dirinya dioperasi. Tuhan, terserah Engkau sajalah….. (Bersambung)

Rabu, 26 September 2012

GADO-GADO CINTA and BE STRONG INDONESIA

GADO-GADO CINTA

Gimana sih rasanya cinta? Manis, asem, pahit, legit tentunya. Banyak cerita banyak kisahnya, ada tawa, ada duka, dan juga ada luka.


Seperti gado-gado, cinta pun juga akhirnya nikmat terasa. Buku ini berisi cerita pendek yang saya tulis bersama teman-teman, based on true story. Lagi -lagi CINTA. Ya, begitulah cinta, deritanya tiada dua, tapi senangnya juga tak terkira. Hahahaha. Selamat membaca :).

BE STRONG INDONESIA

Buku ini aku tulis bersama teman-teman yang lainnya, tanpa komisi, dan tanpa bagi royalti. Penjualan dari buku ini full 100% disumbangkan untuk korban merapi. Berisi cerpen-cerpen dari berbagai penulis. Aku salah satu diantaranya.


ANTOLOGI " PATAH HATI"

Siapa bilang patah hati bikin mati? Kamu kali..hehehe.. Tapi ini memang benar-benar terjadi, banyak yang menjadi buta hanya karena putus cinta. Dunia seisinya menjadi gelap baginya. Padahal, masih ada keluarga, masih ada saudara, teman dan sahabat yang setia.


Penulis: Miftahul Jannah, Xanjeng Nura, Yunda Biru Langit, Erlinda Jilly Madhan, dkk,
ISBN: 978-602-225-264-1
Terbit: Februari 2012
Tebal: 334 halaman
Harga: Rp. 61.900,00



Buku ini membantu menusir kegalauan teman-teman, tak selamanya patah hati merusak diri. Bahkan kadang memberi manfaat jika disikapi dengan hebat. Tulisan-tulisan di dalamnya based on true story. Jadi kalian nggak akan bilang " ah, ngomong sih gampang" dan pelakunya sukses meng-healing patah hatinya, bahkan move-on dengan segera. Saya salah satu diantaranya, hehehe

Patah hati bikin kita mati? Benar adanya, kalo kita minum racun serangga..:)

KULEPASKAN KAU DARI HATIKU

Mencintai itu hanya ada dua pilihan " Memperjuangkan atau melepaskan". Nah, jika amunisi yang kita gunakan belum mencukupi, maka tak lain dan tak bukan maka pilihan tepat jatuh ke pilihan kedua.

Ya, cinta sejati itu tidak menyakiti. Cinta sejati intu ikhlas dan membahagiakan demi yang dikasihi. Kadang, kita memang harus tahu diri, seberapa jauh kita harus mencintai. Katanya cinta itu belum tentu memiliki tapi memiliki harus mencintai.

Buku ini ditulis keroyokan bersama  teman-teman. Berisi berbagai macam kisah, bagaimana kita melepaskan orang yang disayangi dengan sepenuh hati. Sayangnya buku ini hanya dapat dipesan melalui online karena tidak tembus offline. Silahkan membaca atau pinjam dari teman yang punya. Oh ya, di sana aku menggunakan nama pena " Rani Alzena".



 Judul : Kulepas Kau dari Hatiku
Penulis : Fitri Gita Cinta and friends
Tebal : xiii + 215 hlmISBN : 978-602-9079-38-8
Harga :44.700,-





SHE CALL HER " NDAN"

"Ndan"?Aku mengernyitkan dahi begitu membaca judulnya. Judul yang unik, dan baru pertama kali ini aku dengar. Dengan cover yang ceria aku mengira isinya adalah seputar cita-cita dan keinginan menggapainya. Atau malah cerita novel tentang bintang-bintang, karena di bawah judul itu ada sebait tulisan " Kerlip dan Pendar Bintangku".


Penasaran di buatnya aku segera membacanya. Sebuah buku dengan 153 halaman dan bercover menarik yang ditulis oleh sahabatku " Bintang Kirana"yang aku mengenalnya lewat pena dan sampai saat ini belum pernah bertemu dengannya.

Oke, halaman ix. Membuatku meneteskan air mata, haru sekaligus bangga. Yah, sahabatku ini adalah seorang dokter penderita SLE (Lupus), sebuah penyakit autoimun. Semua orang boleh punya alasan untuk menyerah, menyalahkan takdir, dan merutukki nasib. Tapi, sahabtku ini memang benar-benar luar biasa. Dia membuktikan kepada dunia, dirinya bisa, meskipun harus menjadi dokter tak berpasien seperti yang ditulisnya. Tapi dia mampu memberikan warna kepada dunia.

Kembali ke bukunya, buku ini bukan hanya sekedar kumpulan puisi dan liris, tetapi sebuah oase bagi jiwa-jiwa yang mulai kerontang, sebuah penyemangat ketika ingin berhenti berjuang. Dengan kata-kata yang digoreskannya dari jiwa, pun berhasil menyentuh jiwa pembacanya. Engkau seakan-akan berhadapan dengannya mendengarnya bercerita tentang kisahnya. Sungguh, luar biasa !!

" Ndan" ternyata itu adalah panggilan sayangnya kepada bundanya yang saat ini telah tenang di alam sana. Kerinduan akan bunda, rasa terimakasih yang teramat mendalam karena bundanya telah merawatnya. Sungguh kisah yang menawan dan mengharukan.

"Ingin kujenguk hatimu. Ada apa di sana? Tak ada rasa sesalkah atau kecewa kepadaku? Selama ini aku selalu membuatmu sedih dan letih, yang tak mungkin kubayar. Tapi, tak kutemukan setitik pun rasa itu di sana. Terbuat dari apa dirimu, hingga kau begitu cintanya kepadaku? Kau begitu agung untukku, Ndan"

Sebait puisi yang berjudul " MEMUJA" menjadi puisi favoritku. Dan lebih dari itu semua, dia mengingatkanku kepada seseorang, mama. Yah, tiba-tiba aku merindukannya. Jika dia memanggilnya " Ndan", aku memanggilnya " Mama".

Terimakasih "Ndan" , Terimakasih " Bintang Kirana"..:) 


MISKIN TAPI KAYA


Sore  berteman bayang-bayang. Sinar mentari yang mulai tenggelam di balik pegunungan hanya tersisa separuhnya , menelusup di antara hutan jati yang tumbuh menjulang. Kata orang, hutan jati identik dengan tempat kering dan gersang. Dan begitulah kenyataannya. Tanah-tanah di sekeliling berwarna kemerahan karena kurang siraman hujan, ditumbuhi batu-batu cadas yang cukup tajam. Lengkap dengan rumah penduduk yang hanya berdinding papan sudah cukup meneriakkan kemelaratan.  

Miris memang, pohon-pohon jati yang seharusnya bisa menjadi sumber pendapatan, tidak diketahui siapa yang menebang dan memanfaatkan. Rakyat di sekitarnya hanya tau, bagaimana mencari pakan untuk sapi-sapi yang kelaparan, juga untuk anaknya yang sekolah dan minta uang jajan atau istri yang ingi bedakan meski tak mandi sepagian. Orang bilang tanah kita tanah surga, tapi hasil bumi tak tahu entah kemana dan siapa yang menikmatinya.


Pemandangan yang sungguh mengenasan, ditambah lagi jalan-jalan aspal yang mulai berlubang. Menciptakan lautan debu yang kusam untuk dipandang. Ah, siapapun orangnya pasti dibuat bosan karenanya. Tetapi tunggu. Ada yang berbeda. Sebuah bangunan menjulang indah diantara rumah-rumah berndinding papan. Arsitekturnya modern, kokoh, menunjukkan karya seni yang maha dahsyat. Lantainya keramik indah, bersih, dan mewah.Aku memandangnya dengan terheran-heran. Bukan karena indahnya. Bangunan seperti ini sudah sering aku lihat di kotaku, bahkan lebih mewah dari ini, hanya memang dalam kemasan dan fungsi yang  berbeda. Selang beberapa jam terdengar teriakan keras dari bangunan itu. Matahari sudah tidak tampak lagi, sempurna tersembunyi di balik gunung yang menjulang tinggi. Semburat merah mulai merekah di ufuk barat, menggoreskan warna kuning jingga yang luar biasa indahnya.

Tak berapa lama, rombongan orang-orang bersarung dan bermukena  berbondong-bondong menuju bangunan itu. Suatu pemandangan yang begitu menentramkan. Yah, di desa seperti ini yang penuh akan hujan jati, diantara rumah-rumah berdinding papan. Masjid adalah bangunan yang paling menawan, tempat beradu kerinduan dengan Tuhan. Senja kali ini begitu indah, menghadirkan sebuah pelajaran berharga untukku. Meskipun miskin, tetapi desa ini kaya.

DEAR, PAGI


Dear Pagi,
Hari ini aku kembali menyambut mentari, mungkin sinarnya sama dengan hari-hari sebelumnya. Hangat dan menenangkan jiwa. Tetapi entah mengapa, pagi ini agak berbeda. Lebih indah di mata. Jika aku amati dengan seksama. Tak ada yang berubah darinya. Tetap malu-malu mengintip dari ufuk timur, perlahan menghalau embun, dan pada akhirnya meninggi tanpa ampun. Lalu apa? yang membuatnya berbeda.


Hari ini aku pun kembali memenuhi kedua paruku dengan udara pagi. Sama seperti sebelumnya masih dingin dan sejuk terasa. Tetapi pagi ini agak sedikit berbeda, kesejukannya mengalir mengelus dan menenangkan jiwa. Jika aku perhatikan tak ada yang berbeda, masih penuh dengan butir-butir embun yang turun semalaman. Lalu apa?mengapa berbeda?

Dear pagi.
Hari ini aku kembali dengan rutinitasku sehari-hari. Tak ada yang berbeda dengan sebelumnya, kalaupun ada hanya sebagian kecil saja. Tetapi kali ini sungguh berbeda, ada letupan-letupan dahsyat yang memenuhi jiwa. Lalu apa?mengapa tak sama?

Dan pagi, aku kembali untuk merajut mimpi. Masih sama dengan mimpi sebelumnya, tetapi kali ini lebih indah. Tak ada lagi keraguan dan ketakutan untuk melangkah. Inikah yang namanya hidup?wahai pagi?lalu apa yang terjadi selama ini? Mengapa kali ini tak serupa? Ada apa sebenarnya? Sungguh, aku terheran-heran pagi. Ada apa dengan hari ini. Kata orang tak ada yang berbeda, tetapi bagiku hari ini lebih indah terasa. Jawablah pagi, jangan kau diam saja seperti tak tahu apa-apa.

Dan kau pagi, malah tersenyum sembari berbisik kepadaku. " Semua tampak berbeda di hadapmu kawan. Karena hari ini kau mulai dengan semangat di hati. " ucapmu sembari pergi.

Ah, pagi..

SANG PIPIT BERJIWA ELANG ( A TRUE LOVE STORY)


” Setengah abad yang lalu aku menikah dengannya. Bukan karena hartanya, bukan juga karena rupanya yang terlalu sederhana. Tetapi aku percaya, dia yang bisa membuatku bahagia. Padahal pada masa itu, aku adalah bunga di desaku. Parasku cantik, mata lentik, dan kulit putih bersih warisan dari ibu. Sudah begitu, aku pun juga seorang anak lurah yang cukup berada. Banyak lelaki yang ingin memperistriku, dari teman sepermainanku hingga anak bangsawan raja tanah berhektar-hektar luasnya. Tetapi mungkin inilah yang namanya  jodoh, keyakinan itu tidak mampu dibeli, bahkan dengan harta berapapun.” ujar seorang wanita tua di depanku. Usianya kurang lebih 70 tahun, tetapi sisa kecantikannya masih tampak jelas. Hanya saja kali ini, keriput di wajahnya lebih mendominasi. Aku memandanginya, menunggunya melanjutkan cerita sembari menyeduh  secangkir teh yang dihidangkannya untukku. Hangat dan nikmat.

” Aku selalu percaya bahwa hati tidak bisa dibohongi. Aku pun meyakinkan orang tuaku bahwa dia yang terbaik untukku dan pada akhirnya kami bisa menikah juga. Awalnya aku merasa sangat bahagia, tetapi seiring berjalannya waktu, sifat aslinya terlihat jelas, tanpa tameng apapun. Dia sangat keras, egois dan pemarah. Kau tahu sendiri kan nak, pada jaman dahulu wanita memang dinilai rendah di mata pria. Dianggap sebagai pelayan yang harus menuruti maunya.”

Aku mengangguk, menyetujui pendapatnya. Memang begitulah budaya Jawa, di mana seorang istri sangat menghargai suami, bahkan saking nurutnya kadangkala istri pun tak diberi kesempatan untuk bicara. Yang jelas, istri itu harus nurut, membuat suami senang, sami’na wa ata’na, entah suami benar ataupun salah.

” Aku tidak pernah menuntutnya untuk menjadi kaya, makan pun seadanya. Apalagi perhiasan. Mungkin itu hanya impianku semata. Melihatnya mau bekerja meski sebagai kondektur dengan gaji yang tidak seberapa, itu sudah membuatku bersyukur tiada habisnya. Aku rela hidup berpisah dari orang tua, menempati rumah berdinding bambu sederhana bersamanya. Aku sangat mencintainya dan taat kepadanya. Setiap hari aku bangun pukul 3 pagi. Menyiapkan air hangat untuk mandi,aku takar agar tidak terlalu panas di kulitnya, kuletakkan handuk di ujung kamar mandi, kuoleskan odol pada sikatnya, kutempatkan sabun di tempat biasanya. Semuanya harus tertata dan siap sedia ketika dia bangun dari tidurnya. Pun juga baju dan celana yang telah kusetrika rapi, lengkap juga dengan masakan yang telah aku siapkan dengan penuh cinta. Meskipun kadang dia hanya mencicipi tiga sendok makan saja.”

” Ah, pasti bahagia sang suami, ya? “ Tanyaku sembari memandang takjub wanita tua di depanku itu.
Dia menggeleng.

” Tidak juga, sikap baikku itu diartikannya sebagai sikap yang seharusnya dilakukan seorang istri kepada suami. Sudah sepantasnya demikian. Seumur hidup tidak pernah aku dengar ucapan terimakasih dari mulutnya. Malah sebaliknya, kadangkala jika ada kesalahan sedikit saja, dia marah dan mencaci diriku. Pernah pada suatu malam, setelah aku menyiapkan makan malam, menyiapkan air hangat dan baju gantinya, aku menunggunya pulang kerja. Karena saking lelahnya, aku ketiduran dan tidak mendengarnya datang. Aku terbangun ketika mendengar bunyi barang di lempar, kulihat ke arah ruang makan sayur  dan lauk yang kumasak sudah berceceran di lantai tanah, beberapa barang juga sudah berbentuk tak karuan. Aku hanya diam, bersabar. Sebagaimanapun rasa sakitnya yang kuderita, aku sudah bertekad. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku dan akan kubaktikan sisa hidupku kepada suamiku..,” ujarnya tertahan sembari menghela nafas.


Aku terdiam, tak sanggup berkata apapun.

” Beberapa tahun kemudian, ketika anakku telah lima jumlahnya. Kami ditimpa musibah. Dia terkena penyakit wasir. Anehnya, penyakit ini tidak kunjung sembuh meski telah dioperasi sebanyak lima kali. Dari Rumah Sakit di Semarang, Jakarta, Solo, bahkan hingga pengobatan tradisional tidak mempan. Karena sakit, tentu saja dia tidak bisa bekerja. Dan mau tak mau aku yang menggantikannya. Pagi buta aku membuat kue yang kutitipkan ke toko kue di pusat kota. Setelah itu bekerja sebagai bagian tata usaha di SMA, sorenya aku menjadi juru rias manten atau kerja di salon. Malamnya aku menunggui suamiku hingga sebelum subuh tiba. Begitu kulakukan hingga suamiku sembuh setelah hampir 5 tahun lamanya keluar masuk rumah sakit. Kondisinya yang menjadi sakit-sakitan setelah keluar dari rumah sakit membuatku mau tak mau juga ikut bekerja selain juga mengurus keluarga seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, hanya saja bertambah amanah. Alhamdulilah kelima anakku sekarang menjadi orang semua. Mampu mempunyai rumah sendiri, penghasilan yang cukup, itu sudah membuatku bahagia.”

” Subhanallah, luar biasa...” ujarku menahan air mata.

Aku ingin bertanya lebih banyak lagi kepadanya. Tetapi seorang laki-laki tua berambut putih keluar dengan terhuyung dari kamarnya ketika suara adzan  ashar terdengar.

“ Ti, ayo solat..” ujarnya. Wanita tua di depanku mengangguk. Dituntunnya lelaki tua itu menuju mushola.

” Allahuakbar..iftitah..bismillahirahmanirrahim..” kudengar sayup-sayup sang wanita tua itu menuntun lelaki tua yang ternyata sudah pikun untuk melafalkan bacaan dan gerakan sholat.

Aku merinding melihatnya. Yah, dirinya bagai seekor burung pipit yang berjiwa elang, jika suatu saat nanti dia harus terbang, kuharap surga yang menjadi tujuannya.

Blora, 3 September 2012

Guru dan Dokter : Minta Kenaikan Gaji?

Dokter dan Guru, minta kenaikkan gaji ??? Wajar saja!! Bukan karena saya adalah seorang calon dokter dan bukan karena saya anak dari seorang guru serta dibesarkan di keluarga guru saya berkata demikian. Tapi secara objektif saya ingin berkata, " dokter dan guru juga manusia". Seorang manusia yang berjuang demi kemanusiaan, sehingga pada diri mereka masih ada sisi manusiawi-nya, tapi ini dikarenakan mereka memang seorang manusia.


Okelah,saat ini banyak yang memandang profesi kemanusiaan ini telah terkotori, terbukti dengan beberapa guru dan dokter yang menuntut gaji. Helloo..katanya kemanusiaan kok ya ujung-ujungnya uang, begitulah kata mereka. Baiklah, inilah menurut sudut pandang saya yang saya tulis di status facebook. Dan ternyata banyak yang sependapat dengan saya..:

" Wajar, jika orang-orang yang bekerja di bidang jasa berdemo menuntut haknya. Guru, dokter, ataupun pekerja jasa yang lainnya seringkali tersandung dengan kata orang " katanya pahlawan tanpa tanda jasa, tapi kok gaji minta dinaikkan?" atau " katanya demi kesehatan, kemanusiaan, kok ujung-ujungnya minta uang?". Belive me, jika mereka hidup sendiri, hal tersebut tidak akan terjadi, masuk di dunia pen
didikan dan kesehatan demi kemanusiaan adalah sebuah pilihan. Tetapi kenyataannya mereka hidup dalam lingkungan yang bernama keluarga.

Mereka mungkin bisa saja, digaji seadanya, makan 2x sehari dengan lauk garam. Tapi, apakah mereka bisa, jika anak-anak mereka mengalami hal serupa bahkan harus putus sekolah karena tak punya biaya? Dulu, ketika gaji guru masih mengenaskan, orang tua saya harus banting tulang agar saya dan kakak saya masih bisa sekolah dan melanjutkan hingga kuliah. Dari les tambahan, hingga membuat "gandos rangin" yang disetorkan ke rumah makan. Belum lagi gali lubang tutup lubang.

Pernah saya bertanya, "ibu bapak tidak malu?" mereka menggeleng. " kenapa gak pensiun dini saja, terus buka toko kue" karena pada kenyataannya hasil penjualan kue lebih besar dari gaji bapak ibu sebulan. Mereka menggeleng " ibu bapak senang mengajar," kata mereka. Hmmm...#bukanembenarantapikenyataan 


Yah, benar. Kenyataannya memang demikian. Kita tidak hidup sendirian. Kita mungkin bisa bekerja full demi kemanusiaan. Tetapi siapa nanti yang memberi anak-anak makan?dan semakin tragis jika mereka nanti harus putus sekolah. 

Ah, tapi kan dokter itu kaya-kaya? Kata siapa? Seorang dokter yang jujur penghasilan perbulannya jauh dibawah para pengusaha. Kalopun kaya itu "mungkin" dari turunan bapaknya, atau mungkin telah menjadi dokter ternama berpuluh-puluh tahun lamanya, hingga rambut di kepalanya putih semua.Begitu juga dengan guru, seperti yang saya ceritakan di atas. Orang tua saya harus banting tulang, diluar kerja sebagai guru agar saya tetap bisa "survive" untuk hidup dan melanjutkan kuliah.

Jadi, saya memaklumi ketika para guru, dan para dokter meminta kenaikan gaji. Karena saya pernah mengalami berada di posisi mereka, mengalami di keadaan mereka, Dan bagaimana dilemanya. Guru dan dokter, juga manusia..:)




Jumat, 20 April 2012

Lelaki oh Lelaki.. ( Wanita Wajib Baca..:D)

Entah dapat wangsit dan keberanian dari mana,tetapi tiba-tiba saya tergelitik menulis tentang tema ini. Tema yang mungkin sangat sensitif  untuk dibahas dan mungkin banyak yang tidak setuju dengan isi dari tulisan ini, tapi kesemuanya itu tidak akan mengurungkan niat saya untuk menuangkan uneg-uneg tentang makhluk yang bernama "lelaki"(lebay.com)

Yah, lelaki, makhluk luar biasa yang akan menemani perjalanan hidup saya nantinya ( insya allah..:p). Lelaki itu makhluk yang unik, simpel, dan berkarakter. Mereka kokoh, tegar, pantang menyerah, dan menjadi tumpuan keluarga. Tetapi di balik keteguhannya, ternyata lelaki pun mempunyai kelemahan juga.

Kesendirian, merupakan hal yang menjadi momok menakutkan bagi lelaki. Laki-laki sebenarnya tercipta menjadi makhluk yang setia, hanya bisa mencintai 1 wanita saja, tetapi bukan makhluk yang bisa untuk sendiri dan merasa sepi. Boleh jadi, dia akan menunggu seseorang yang benar-benar disayanginya, tetapi tak dapat dipungkiri, dia juga mempunyai affair dengan wanita yang lainnya, bukan karena membagi cinta. Tetapi karena dirinya tidak bisa dengan kesendiriannya.

Itu mengapa mulai bermunculan para lelaki berhidung belang. Berbeda dengan wanita, yang hanya bisa melakukan seks dengan orang yang disayanginya, yaitu suaminya. Laki-laki bisa melakukan seks tanpa dasar cinta, ini sudah merupakan naluri karena seorang lelaki tak mampu sendiri. Jadi jangan disalahartikan, jika seorang lelaki melakukan perselingkuhan dengan wanita lain, bukan berarti dia tidak mencintai istrinya lagi. Dia mungkin hanya bosan, jenuh, atau kesepian karena kurang perhatian. Sebaliknya, seorang wanita yang melakukan perselingkuhan adalah warning yang luar biasa.


Mungkin terkesan tidak adil, tetapi memang begitulah keadaannya. Tentang bagaimana menyikapinya semua kembali kepada aturan kita sebagai makhluk yang beragama. Dalam sebuah hubungan jarak jauh, pihak yang paling tersiksa adalah lelaki, karena itu artinya mereka dipaksa untuk setia dan sendiri. Jadi, jika anda wanita menemukan sosok laki-laki yang tetap bisa menjaga diri meski terpisahkan oleh jarak, jangan sia-siakan dia dan jangan ragukan seberapa besar cintanya kepada anda.

Hal lain yang kita temukan dalam realita kehidupan adalah ketika salah seorang dari pasangan suami istri meninggal dunia. Seringkali kita mendengar seorang janda yang hingga akhir hidupnya mampu bertahan tidak menikah dengan siapa-siapa, sedangkan mungkin hanya segelintir pria yang bisa hidup menduda hingga akhir hayatnya. Ini tidak menunjukkan bahwa laki-laki adalah makhluk yang lemah, sama sekali tidak. Tetapi pria dan wanita tercipta dengan produk yang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda.

Laki-laki tercipta sebagai makhluk yang kuat secara fisik, tegas,realistis, dan beprinsip, tetapi tidak mampu sendiri. Sedangkan wanita kuat untuk sendiri, tetapi seringkali emosional, labil, dan mengedepankan perasaan. Pada hakikatnya laki-laki dan wanita adalah sepasang sandal yang saling bertolak belakang tetapi sejalan. Tidak ada yang lebih tinggi, ataupun lebih rendah. Masing-masing berjalan beriringan sesuai pernanan dan kodrtanya.

Lalu bagaimana caranya mengetahui bahwa laki-laki yang didekatmu itu adalah yang benar-benar mencintaimu? Menginginkanmu menjadi pelabuhan terakhirnya, bukan hanya menjadi teman dalam petualangan dan kesendiriannya. Yup, dengan menanyakan tentang keseriusan dalam pernikahan. Laki-laki yang mencintai itu berani menikahi, dia akan berfikir seribu kali untuk menikahi, tetapi mungkin hanya dalam hitungan jam untuk memacari.

Jadi wanita, sekarang terserah pilihan anda. Mau menjadi pelabuhan terakhir atau teman dalam perjalanan saja. Tentu pilihan pertama lebih aman dan bebas dari kata terluka. Bangunlah pelabuhanmu sebaik-baiknya, agar nantinya kapal yang tertambat di dermagamu, adalah kapal yang terbaik..:)

Selamat Hari Kartini
21 April 2012

Kamis, 19 April 2012

Antara Emansipasi dan Wanita Sejati

Ngomong-ngomong tentang april, apalagi mendekati tanggal 21, pasti nyangkutnya ke emansipasi, yang sebenarnya malah mirip ke feminisme. Yup, sikap yang diagung-agungkan para wanita ini menjamur di era modern sekarang ini. Menurut saya nih sebagai wanita, tak ada yang salah dengan emansipasi, setidaknya para wanita bisa mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dan memperoleh pengetahuan, hanya saja pada praktek dan realitanya saat ini terlalu " kebablasan".

Pada nyatanya, emansipasi malah menjadi tameng para wanita untuk berbuat seenaknya. Gimana enggak? Pergeseran norma yang entah dari mana awalnya membuat kebiasaan para wanita menjadi berubah dan itu sah-sah aja. Contohnya ni ya, wanita nggak bisa masak itu biasa, wanita males nyuci dan lebih milih nglaundri itu gak masalah, atau wanita yang gak bisa ngejahit padahal cuma ngejahit kancing baju sendiri, orang bilang no problem. Dan parahnya saat ini masyarakat menganggap wanita yang hebat itu sama seperti lelaki yang hebat, karir sukses, kerjaan beres, cerdas, pintar, brilian, so wow..

Parahnya lagi gerakan emansipasi ini gak ada lawannya, Belum ada tuh gerakan gentleisme atau priaisme yang menuntut hak-hak nya. Para pria tetap saja terkena getahnya. Kalo wanita gak bisa masak, akhirnya beli makan diluar,males nyuci akhirnya nglaundri,  ujung-ujungnya keluar duit, dan masyarakat masih aja nganggep yang wajib nanggung kebutuhan adalah para lelaki. Mereka masih saja harus menjalankan anggapan-anggapan masyarakat bahwa lelaki harus bertanggung jawab dan menjadi tulang punggung keluarga, sedangkan wanita karir, bekerja, dan jarang bersama keluarga dianggap sah-sah saja. Bahkan kadang dianggap sebagai pejuang  yang rela berkorban, mengorbankan kepentingan keluarga dan dirinya demi nusa dan bangsa. Padahal apapun pekerjaannya, karier terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga.


Emansipasi pun membuat posisi pria menjadi semakin tidak berdaya. Menjadi tersudut dan terpaksa harus nurut. Banyak para istri yang suka membangkang, melawan, tetapi dicubit sedikit langsung koar-koar suaminya melakukan kekerasan. Otomatis saja tingkat perceraian di Indonesia menjadi luar biasa, istri selalu ngomel-ngomel, minta jatah bulanan, tapi membuatkan segelas teh hangat saja enggan. Suami jengah, dan akhirnya memilih untuk berpisah.


Coba saja kita tengok 50 tahun yang lalu, dimana tingkat  kelanggengan pasangan masih tinggi. Saat itu, para wanita dan pria berperan sebagaimana mestinya. Mereka menyadari benar, bahwa wanita dan pria diciptakan berbeda bukan berarti salah satu lebih tinggi, tetapi sudah menjadi kodratnya wanita itu adalah makhluk yang dipimpin dan pria adalah makhluk yang memimpin. Dan mereka menyadari secara penuh, mau dipimpin, dan nurut itu bukan menunjukkan tanda kelemahan bagi wanita. Tetapi memang pada kenyataannya para pria dianugerahi logika yang lebih dibandingkan wanita, sehingga bisa mengambil keputusan tidak hanya sesaat tetapi juga untuk jangka panjang. Walaupun pada kenyataannya, tidak semua pria bisa bersikap demikian, tetapi mereka hanya perlu waktu untuk mencapai suatu titik kedewasaan untuk mengambil suatu keputusan.

Kembali kepada emansipasi, banyak yang tetap setuju bahwa emansipasi itu perlu. Berdalih dengan alasan wanita itu harus kuat, tidak boleh cengeng, rewel dan tidak boleh lemah. Oke, fine, itu benar. Tetapi sayangnya para wanita saat ini mengartikannya dengan salah.

"Tegar itu adalah ketika kau masih bisa bersyukur, ketika suamimu hanya mampu membelikan daster yang tak seberapa harganya, tidak lemah itu ketika kau masih bisa tersenyum meski harus menahan sakit melahirkan anakmu yang pertama dengan persalinan normal, tidak cengeng itu ketika kau masih saja bertahan dan setia meskipun suamimu berada di seberang lautan sana mencari kerja. "

Tegar dan kuat bagi wanita itu lebih dari sekedar dia mampu mandiri mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga, tetapi lebih kepada tegar dalam menghadapi kehidupan, mengurus keluarga, dan menerima kodratnya.

Memang bukan hal yang mudah untuk tetap tegar bersikap sesuai kodrat sementara saat ini masyarakat berpendapat sebaliknya. Tetapi percayalah wanita, jika ingin menjadi keluarga yang langgeng dan sejahtera, jadilah wanita yang kuat tanpa harus melupakan kodrat. Biarkan semua berjalan sesuai hukum alam. Say no to feminisme, say yes to naturalisme..


*Pesan untuk diriku sendiri..:p
Berdasarkan berbagai pengamatan..
Surakarta, 19 April 2012


Sabtu, 02 Juli 2011

OBROLAN MALAM DAN HUJAN

Malam senyap tanpa sedikitpun gemintang yang bertaburan. Terduduk sepi tanpa bulan yang menemani. Wajahnya murung, kelabu, dan mendung. Sesekali ditatapnya pepeohonan yang beradu ditiup sang bayu, melenggak lenggok ke sana kemari sesuka hati.

” Mengapa pilu wahai malam? Tersenyumlah agar wajahmu lebih indah..” gerimis menyapa. Muncul dari sela-sela jubah yang penuh jelaga.

Sang malam terdiam. Tanpa kata. Dirinya bimbang. Ingin rasanya dia berbagi cerita, tetapi ragu menyelimutinya.
“ Aku bingung kawan..” akhirnya dia menyerah.
” Adakah yang ingin kau bagi denganku, kawan?” tanya gerimis. Titik-titiknya mulai membumi, membasahi tanah gersang yang hampir meranggas.

” Aku sedang kebingungan kawan. Sebenarnya aku ingin mulai membuka usaha. Aku ingin berjualan di pinggir mega, sekedar menjajakan jajanan untuk para awan, jus segar untuk mentari di siang hari, atau teh hangat untuk para bintang ketika mereka berkumpul untuk saling bercengkrama dan membagi tawa.”


” Lalu, apa yang kau bingungkan?”
” Bukan hanya kebingungan, ketakutan lebih tepatnya. Beberapa tahun yang lalu, kakakku juga pernah menjalani usaha serupa. Tetapi hasilnya, tak seperti yang diahrapkan. Bukannya modal yang kembali, bukannya laba yang di dapat. Tetap malah rugi.”

Sang gerimis terbahak, tawanya menggelegar berkilatan memecah langit malam. Sang malam mengernyit keherenan.

” Apa yang kau tertawakan kawan?” tanyanya.

” Aku menertawakan kepesimisanmu wahai malam. Aku pikir wajahmu yang garang seteguh hatimu, tetapi dibalik itu ternyata tersembunyi kerapuhan jiwamu. Wahai kawan, tahukah kamu? Bahwa Allah Maha Pemberi rezeki? Dia dapat menurunkan rezeki kepada siapa saja, usaha yang sama belum tentu berakhir dengan hasil yang sama. Semua tergantung kepadaNya. Coba kau tengok sekali saja, pernah Allah memberikan musibah yang sama. Gempa misalnya, Tetapi Dia memperlakukan umatNya dengan keadaan berbeda-beda. Ada yang selamat dan sehat wal’afiat, ada yang kehilangan harta benda. Ada yang meninggal dunia, dan ada yang cacat serta luka-luka. Dan kau tahu malam, apa yang membedakannya? Takdir..yah, takdir orang tidaklah sama. Takdir orang berbeda-beda.”

” Lalu menurutmu aku harus bagaimana wahai gerimis?”

”” Jadilah dirimu sendiri kawan, jadilah seperti apa yang kau mau. Raihlah mimpi dan cita-cita seperti yang selalu kau rindu. Jangan dengarkan kata orang yang menciutkan hatimu, tetapi dengarkanlah kata mereka yang menasehatimu untuk membuatmu lebih baik. Kau harus kuat kawan, kau harus tegar. Karena kamu adalah kamu, bukan aku, ataupun mereka.”

Sang malam tertunduk. Dirinya terpekur dalam renungan yang dalam. Menyelami setiap kata yang diucapkan oleh gerimis yang mulai menjadi hujan. Menderas keras, beradu dalam rintik yang mulai berjatuhan.

Kartasura, 16 Mei 2011
22.36
* ) Spesial thanks for Ayu Santika Santaningrum..Karena saya adalah saya, bukan anda, dan juga bukan mereka..:D




CATATAN LANGIT

Langit sekarat. Dalam diam dia menangis meratap. Berteman mendung yang memandanginya tanpa kata. Tatapannya nanar, tanpa binar. Wajahnya lesu penuh raut pilu. Menunduk takluk akan setiap jengkal takdir yang ditetapkan. Tangisnya membumi, bercampur isakan gelegar yang sungguh menyayat hati.

Berulangkali ditepisnya awan-awan yang bergelantungan, mencoba menghibur dengan sejuta gurauan. Hatinya beku, mengeras menjadi kerak-kerak yang membatu. Ada kegundahan yang membuncah, menyusupi setiap relung hatinya. Mengoyak paksa sudut-sudut jiwa.

Dirinya terpaku, kali ini membisu. Ingin rasanya dia melepaskan dari belenggu. Tapi dirinya bingung, linglung. Dari mana dan bagaimana dia membagi tanya. Ada rasa sesak yang menyeruak. Ada rasa bimbang yang menyerang, ada rasa takut yang bergelut, ada rasa bersalah yang semakin berdarah-darah. Semua bergumul menjadi satu dalam wadah kegalauan yang membuat pilu. Andai mampu mengulang waktu, andai mampu menghapus detik yang berlalu. Ingin dirinya mengubah masa lalu. Berdiri tegak tanpa belenggu.

 Langit semakin terduduk lesu, jiwanya menggeliat hebat. Ingin rasanya dia menyapa gunung di kakinya sekedar ingin berbagi apa yang dia rasa. Tetapi dirinya tak mampu,  lebih memilih diam dan bisu. Dirinya terpekur, mencoba untuk mengumpulkan syukur. Bersimpuh luruh dalam peluh. Menengadah kepada angkasa dalam setangkup doa, penuh harap dia meminta, Tuhan mendengar apa yang dia kata.

Surakarta, 26 Mei 2011
19.40 WIB

BALADA ANAK KOS

Mataku menunduk lesu,perut pun mulai bernyanyi pilu. Bagaimana tidak, dari pagi tadi belum terisi barang sesuap nasi. Aku menghela nafas dalam-dalam, ini hari ke dua puluh delapan. Masih 4 hari lagi bertahan di bulan yang sama, sedangkan uang di genggaman sudah tak ada. Air minum  pun tak bersisa melengkapi dahaga yang seharian menghinggapi kerongkongan.

Kugaruk kepalaku yang tak gatal, bagaimana ini. Akan makan apa aku malam nanti, esok pagi, dan 4 hari ke depannya? Kuputar otak, kuobrak-abrik uang tabungan, alhamdulilah masih ada beberapa receh uang lima ratusan. Kuhitung keping demi kepingnya, 5 ribu. Cukuplah untuk makan nasi kucing plus segelas es teh malam ini.

Segera kulangkahkan kaki, memberikan hak kepada perut yang sejak pagi tadi berdemonstrasi. Alhamdulilah, masih bisa makan untuk malam ini. Aku kembali memandang gemintang, berfikir keras bagaimana besok bisa mendapatkan uang. Untuk sekedar makan siang. Aku terdiam, berteman malam kulantukan sebait doa. Tuhan, Kau Maha Segalanya. Tak akan Kau biarkan diriku dalam kesusahan, begitulah segenap hati ini meminta. Kuputar otak begitu kerasnya, apa yang bisa kulakukan sekedar untuk mengumpulkan recehan, upah translatean jurnal mungkin baru akan kuterima dua tiga hari lagi. Lalu bagaiaman ini?

Aku memejamkan mata, tak tahu bagaimana hidupku esok harinya. Dan selang lima belas menit kemudian, sesuatu melegakan hatiku

” Tok..tok..”pintu kamarku diketuk. Kulongokkan kepala, ada kakak sepupuku di sana.
” Ini ada kiriman sangu dari budhe.” ujarnya sembari mengulurkan 2 lembar uang lima puluh ribu.”
” Alhamdulillah..” aku mengucap syukur yang tak terkira. Segera kuterima uang tersebut dan kuucapkan terimakasih kepada budhe lewat sms.

Dan tanpa dinyana-nyana, satu jam kemudian. Sebuah sms masuk, dari mama.
” Mbak, nomer rekeningnya berapa?”
Segera kubalas pesan dari mama. Kukirimkan beberapa digit angka yang sarat makna.
” Udah ditransfer mama 100 ribu, ” begitu jawaban selanjutnya.

Entah, hati ini menjadi gundah, bukan karena bimbang, tapi tak tahu harus bagaimana mengucap senang. Sujud syukur kuhaturkan kepada Allah, begitu banyak detil peristiwa yang dimudahkan olehNya. Yah, minggu ini aku benar-benar merasakannya, bahkan ketika aku menghadapi ujian coass, Dia juga memberiku banyak kemudahan.

Aku tersenyum, menatap kembali malam yang semakin temaram.  Kejadian demi kejadian ini, membuatku semakin tegak untuk berjalan. Seberat apapun rintangan, insya Allah pasti ada jalan...:). Karena Allah selalu di sisi, karena Allah tak kan pernah membiarkan kita sendiri.

Surakarta, 29 Mei 2011
*Saat bisa kembali tersenyum..:)