Rabu, 26 September 2012

Guru dan Dokter : Minta Kenaikan Gaji?

Dokter dan Guru, minta kenaikkan gaji ??? Wajar saja!! Bukan karena saya adalah seorang calon dokter dan bukan karena saya anak dari seorang guru serta dibesarkan di keluarga guru saya berkata demikian. Tapi secara objektif saya ingin berkata, " dokter dan guru juga manusia". Seorang manusia yang berjuang demi kemanusiaan, sehingga pada diri mereka masih ada sisi manusiawi-nya, tapi ini dikarenakan mereka memang seorang manusia.


Okelah,saat ini banyak yang memandang profesi kemanusiaan ini telah terkotori, terbukti dengan beberapa guru dan dokter yang menuntut gaji. Helloo..katanya kemanusiaan kok ya ujung-ujungnya uang, begitulah kata mereka. Baiklah, inilah menurut sudut pandang saya yang saya tulis di status facebook. Dan ternyata banyak yang sependapat dengan saya..:

" Wajar, jika orang-orang yang bekerja di bidang jasa berdemo menuntut haknya. Guru, dokter, ataupun pekerja jasa yang lainnya seringkali tersandung dengan kata orang " katanya pahlawan tanpa tanda jasa, tapi kok gaji minta dinaikkan?" atau " katanya demi kesehatan, kemanusiaan, kok ujung-ujungnya minta uang?". Belive me, jika mereka hidup sendiri, hal tersebut tidak akan terjadi, masuk di dunia pen
didikan dan kesehatan demi kemanusiaan adalah sebuah pilihan. Tetapi kenyataannya mereka hidup dalam lingkungan yang bernama keluarga.

Mereka mungkin bisa saja, digaji seadanya, makan 2x sehari dengan lauk garam. Tapi, apakah mereka bisa, jika anak-anak mereka mengalami hal serupa bahkan harus putus sekolah karena tak punya biaya? Dulu, ketika gaji guru masih mengenaskan, orang tua saya harus banting tulang agar saya dan kakak saya masih bisa sekolah dan melanjutkan hingga kuliah. Dari les tambahan, hingga membuat "gandos rangin" yang disetorkan ke rumah makan. Belum lagi gali lubang tutup lubang.

Pernah saya bertanya, "ibu bapak tidak malu?" mereka menggeleng. " kenapa gak pensiun dini saja, terus buka toko kue" karena pada kenyataannya hasil penjualan kue lebih besar dari gaji bapak ibu sebulan. Mereka menggeleng " ibu bapak senang mengajar," kata mereka. Hmmm...#bukanembenarantapikenyataan 


Yah, benar. Kenyataannya memang demikian. Kita tidak hidup sendirian. Kita mungkin bisa bekerja full demi kemanusiaan. Tetapi siapa nanti yang memberi anak-anak makan?dan semakin tragis jika mereka nanti harus putus sekolah. 

Ah, tapi kan dokter itu kaya-kaya? Kata siapa? Seorang dokter yang jujur penghasilan perbulannya jauh dibawah para pengusaha. Kalopun kaya itu "mungkin" dari turunan bapaknya, atau mungkin telah menjadi dokter ternama berpuluh-puluh tahun lamanya, hingga rambut di kepalanya putih semua.Begitu juga dengan guru, seperti yang saya ceritakan di atas. Orang tua saya harus banting tulang, diluar kerja sebagai guru agar saya tetap bisa "survive" untuk hidup dan melanjutkan kuliah.

Jadi, saya memaklumi ketika para guru, dan para dokter meminta kenaikan gaji. Karena saya pernah mengalami berada di posisi mereka, mengalami di keadaan mereka, Dan bagaimana dilemanya. Guru dan dokter, juga manusia..:)




Jumat, 20 April 2012

Lelaki oh Lelaki.. ( Wanita Wajib Baca..:D)

Entah dapat wangsit dan keberanian dari mana,tetapi tiba-tiba saya tergelitik menulis tentang tema ini. Tema yang mungkin sangat sensitif  untuk dibahas dan mungkin banyak yang tidak setuju dengan isi dari tulisan ini, tapi kesemuanya itu tidak akan mengurungkan niat saya untuk menuangkan uneg-uneg tentang makhluk yang bernama "lelaki"(lebay.com)

Yah, lelaki, makhluk luar biasa yang akan menemani perjalanan hidup saya nantinya ( insya allah..:p). Lelaki itu makhluk yang unik, simpel, dan berkarakter. Mereka kokoh, tegar, pantang menyerah, dan menjadi tumpuan keluarga. Tetapi di balik keteguhannya, ternyata lelaki pun mempunyai kelemahan juga.

Kesendirian, merupakan hal yang menjadi momok menakutkan bagi lelaki. Laki-laki sebenarnya tercipta menjadi makhluk yang setia, hanya bisa mencintai 1 wanita saja, tetapi bukan makhluk yang bisa untuk sendiri dan merasa sepi. Boleh jadi, dia akan menunggu seseorang yang benar-benar disayanginya, tetapi tak dapat dipungkiri, dia juga mempunyai affair dengan wanita yang lainnya, bukan karena membagi cinta. Tetapi karena dirinya tidak bisa dengan kesendiriannya.

Itu mengapa mulai bermunculan para lelaki berhidung belang. Berbeda dengan wanita, yang hanya bisa melakukan seks dengan orang yang disayanginya, yaitu suaminya. Laki-laki bisa melakukan seks tanpa dasar cinta, ini sudah merupakan naluri karena seorang lelaki tak mampu sendiri. Jadi jangan disalahartikan, jika seorang lelaki melakukan perselingkuhan dengan wanita lain, bukan berarti dia tidak mencintai istrinya lagi. Dia mungkin hanya bosan, jenuh, atau kesepian karena kurang perhatian. Sebaliknya, seorang wanita yang melakukan perselingkuhan adalah warning yang luar biasa.


Mungkin terkesan tidak adil, tetapi memang begitulah keadaannya. Tentang bagaimana menyikapinya semua kembali kepada aturan kita sebagai makhluk yang beragama. Dalam sebuah hubungan jarak jauh, pihak yang paling tersiksa adalah lelaki, karena itu artinya mereka dipaksa untuk setia dan sendiri. Jadi, jika anda wanita menemukan sosok laki-laki yang tetap bisa menjaga diri meski terpisahkan oleh jarak, jangan sia-siakan dia dan jangan ragukan seberapa besar cintanya kepada anda.

Hal lain yang kita temukan dalam realita kehidupan adalah ketika salah seorang dari pasangan suami istri meninggal dunia. Seringkali kita mendengar seorang janda yang hingga akhir hidupnya mampu bertahan tidak menikah dengan siapa-siapa, sedangkan mungkin hanya segelintir pria yang bisa hidup menduda hingga akhir hayatnya. Ini tidak menunjukkan bahwa laki-laki adalah makhluk yang lemah, sama sekali tidak. Tetapi pria dan wanita tercipta dengan produk yang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda.

Laki-laki tercipta sebagai makhluk yang kuat secara fisik, tegas,realistis, dan beprinsip, tetapi tidak mampu sendiri. Sedangkan wanita kuat untuk sendiri, tetapi seringkali emosional, labil, dan mengedepankan perasaan. Pada hakikatnya laki-laki dan wanita adalah sepasang sandal yang saling bertolak belakang tetapi sejalan. Tidak ada yang lebih tinggi, ataupun lebih rendah. Masing-masing berjalan beriringan sesuai pernanan dan kodrtanya.

Lalu bagaimana caranya mengetahui bahwa laki-laki yang didekatmu itu adalah yang benar-benar mencintaimu? Menginginkanmu menjadi pelabuhan terakhirnya, bukan hanya menjadi teman dalam petualangan dan kesendiriannya. Yup, dengan menanyakan tentang keseriusan dalam pernikahan. Laki-laki yang mencintai itu berani menikahi, dia akan berfikir seribu kali untuk menikahi, tetapi mungkin hanya dalam hitungan jam untuk memacari.

Jadi wanita, sekarang terserah pilihan anda. Mau menjadi pelabuhan terakhir atau teman dalam perjalanan saja. Tentu pilihan pertama lebih aman dan bebas dari kata terluka. Bangunlah pelabuhanmu sebaik-baiknya, agar nantinya kapal yang tertambat di dermagamu, adalah kapal yang terbaik..:)

Selamat Hari Kartini
21 April 2012

Kamis, 19 April 2012

Antara Emansipasi dan Wanita Sejati

Ngomong-ngomong tentang april, apalagi mendekati tanggal 21, pasti nyangkutnya ke emansipasi, yang sebenarnya malah mirip ke feminisme. Yup, sikap yang diagung-agungkan para wanita ini menjamur di era modern sekarang ini. Menurut saya nih sebagai wanita, tak ada yang salah dengan emansipasi, setidaknya para wanita bisa mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dan memperoleh pengetahuan, hanya saja pada praktek dan realitanya saat ini terlalu " kebablasan".

Pada nyatanya, emansipasi malah menjadi tameng para wanita untuk berbuat seenaknya. Gimana enggak? Pergeseran norma yang entah dari mana awalnya membuat kebiasaan para wanita menjadi berubah dan itu sah-sah aja. Contohnya ni ya, wanita nggak bisa masak itu biasa, wanita males nyuci dan lebih milih nglaundri itu gak masalah, atau wanita yang gak bisa ngejahit padahal cuma ngejahit kancing baju sendiri, orang bilang no problem. Dan parahnya saat ini masyarakat menganggap wanita yang hebat itu sama seperti lelaki yang hebat, karir sukses, kerjaan beres, cerdas, pintar, brilian, so wow..

Parahnya lagi gerakan emansipasi ini gak ada lawannya, Belum ada tuh gerakan gentleisme atau priaisme yang menuntut hak-hak nya. Para pria tetap saja terkena getahnya. Kalo wanita gak bisa masak, akhirnya beli makan diluar,males nyuci akhirnya nglaundri,  ujung-ujungnya keluar duit, dan masyarakat masih aja nganggep yang wajib nanggung kebutuhan adalah para lelaki. Mereka masih saja harus menjalankan anggapan-anggapan masyarakat bahwa lelaki harus bertanggung jawab dan menjadi tulang punggung keluarga, sedangkan wanita karir, bekerja, dan jarang bersama keluarga dianggap sah-sah saja. Bahkan kadang dianggap sebagai pejuang  yang rela berkorban, mengorbankan kepentingan keluarga dan dirinya demi nusa dan bangsa. Padahal apapun pekerjaannya, karier terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga.


Emansipasi pun membuat posisi pria menjadi semakin tidak berdaya. Menjadi tersudut dan terpaksa harus nurut. Banyak para istri yang suka membangkang, melawan, tetapi dicubit sedikit langsung koar-koar suaminya melakukan kekerasan. Otomatis saja tingkat perceraian di Indonesia menjadi luar biasa, istri selalu ngomel-ngomel, minta jatah bulanan, tapi membuatkan segelas teh hangat saja enggan. Suami jengah, dan akhirnya memilih untuk berpisah.


Coba saja kita tengok 50 tahun yang lalu, dimana tingkat  kelanggengan pasangan masih tinggi. Saat itu, para wanita dan pria berperan sebagaimana mestinya. Mereka menyadari benar, bahwa wanita dan pria diciptakan berbeda bukan berarti salah satu lebih tinggi, tetapi sudah menjadi kodratnya wanita itu adalah makhluk yang dipimpin dan pria adalah makhluk yang memimpin. Dan mereka menyadari secara penuh, mau dipimpin, dan nurut itu bukan menunjukkan tanda kelemahan bagi wanita. Tetapi memang pada kenyataannya para pria dianugerahi logika yang lebih dibandingkan wanita, sehingga bisa mengambil keputusan tidak hanya sesaat tetapi juga untuk jangka panjang. Walaupun pada kenyataannya, tidak semua pria bisa bersikap demikian, tetapi mereka hanya perlu waktu untuk mencapai suatu titik kedewasaan untuk mengambil suatu keputusan.

Kembali kepada emansipasi, banyak yang tetap setuju bahwa emansipasi itu perlu. Berdalih dengan alasan wanita itu harus kuat, tidak boleh cengeng, rewel dan tidak boleh lemah. Oke, fine, itu benar. Tetapi sayangnya para wanita saat ini mengartikannya dengan salah.

"Tegar itu adalah ketika kau masih bisa bersyukur, ketika suamimu hanya mampu membelikan daster yang tak seberapa harganya, tidak lemah itu ketika kau masih bisa tersenyum meski harus menahan sakit melahirkan anakmu yang pertama dengan persalinan normal, tidak cengeng itu ketika kau masih saja bertahan dan setia meskipun suamimu berada di seberang lautan sana mencari kerja. "

Tegar dan kuat bagi wanita itu lebih dari sekedar dia mampu mandiri mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga, tetapi lebih kepada tegar dalam menghadapi kehidupan, mengurus keluarga, dan menerima kodratnya.

Memang bukan hal yang mudah untuk tetap tegar bersikap sesuai kodrat sementara saat ini masyarakat berpendapat sebaliknya. Tetapi percayalah wanita, jika ingin menjadi keluarga yang langgeng dan sejahtera, jadilah wanita yang kuat tanpa harus melupakan kodrat. Biarkan semua berjalan sesuai hukum alam. Say no to feminisme, say yes to naturalisme..


*Pesan untuk diriku sendiri..:p
Berdasarkan berbagai pengamatan..
Surakarta, 19 April 2012


Sabtu, 02 Juli 2011

OBROLAN MALAM DAN HUJAN

Malam senyap tanpa sedikitpun gemintang yang bertaburan. Terduduk sepi tanpa bulan yang menemani. Wajahnya murung, kelabu, dan mendung. Sesekali ditatapnya pepeohonan yang beradu ditiup sang bayu, melenggak lenggok ke sana kemari sesuka hati.

” Mengapa pilu wahai malam? Tersenyumlah agar wajahmu lebih indah..” gerimis menyapa. Muncul dari sela-sela jubah yang penuh jelaga.

Sang malam terdiam. Tanpa kata. Dirinya bimbang. Ingin rasanya dia berbagi cerita, tetapi ragu menyelimutinya.
“ Aku bingung kawan..” akhirnya dia menyerah.
” Adakah yang ingin kau bagi denganku, kawan?” tanya gerimis. Titik-titiknya mulai membumi, membasahi tanah gersang yang hampir meranggas.

” Aku sedang kebingungan kawan. Sebenarnya aku ingin mulai membuka usaha. Aku ingin berjualan di pinggir mega, sekedar menjajakan jajanan untuk para awan, jus segar untuk mentari di siang hari, atau teh hangat untuk para bintang ketika mereka berkumpul untuk saling bercengkrama dan membagi tawa.”


” Lalu, apa yang kau bingungkan?”
” Bukan hanya kebingungan, ketakutan lebih tepatnya. Beberapa tahun yang lalu, kakakku juga pernah menjalani usaha serupa. Tetapi hasilnya, tak seperti yang diahrapkan. Bukannya modal yang kembali, bukannya laba yang di dapat. Tetap malah rugi.”

Sang gerimis terbahak, tawanya menggelegar berkilatan memecah langit malam. Sang malam mengernyit keherenan.

” Apa yang kau tertawakan kawan?” tanyanya.

” Aku menertawakan kepesimisanmu wahai malam. Aku pikir wajahmu yang garang seteguh hatimu, tetapi dibalik itu ternyata tersembunyi kerapuhan jiwamu. Wahai kawan, tahukah kamu? Bahwa Allah Maha Pemberi rezeki? Dia dapat menurunkan rezeki kepada siapa saja, usaha yang sama belum tentu berakhir dengan hasil yang sama. Semua tergantung kepadaNya. Coba kau tengok sekali saja, pernah Allah memberikan musibah yang sama. Gempa misalnya, Tetapi Dia memperlakukan umatNya dengan keadaan berbeda-beda. Ada yang selamat dan sehat wal’afiat, ada yang kehilangan harta benda. Ada yang meninggal dunia, dan ada yang cacat serta luka-luka. Dan kau tahu malam, apa yang membedakannya? Takdir..yah, takdir orang tidaklah sama. Takdir orang berbeda-beda.”

” Lalu menurutmu aku harus bagaimana wahai gerimis?”

”” Jadilah dirimu sendiri kawan, jadilah seperti apa yang kau mau. Raihlah mimpi dan cita-cita seperti yang selalu kau rindu. Jangan dengarkan kata orang yang menciutkan hatimu, tetapi dengarkanlah kata mereka yang menasehatimu untuk membuatmu lebih baik. Kau harus kuat kawan, kau harus tegar. Karena kamu adalah kamu, bukan aku, ataupun mereka.”

Sang malam tertunduk. Dirinya terpekur dalam renungan yang dalam. Menyelami setiap kata yang diucapkan oleh gerimis yang mulai menjadi hujan. Menderas keras, beradu dalam rintik yang mulai berjatuhan.

Kartasura, 16 Mei 2011
22.36
* ) Spesial thanks for Ayu Santika Santaningrum..Karena saya adalah saya, bukan anda, dan juga bukan mereka..:D




CATATAN LANGIT

Langit sekarat. Dalam diam dia menangis meratap. Berteman mendung yang memandanginya tanpa kata. Tatapannya nanar, tanpa binar. Wajahnya lesu penuh raut pilu. Menunduk takluk akan setiap jengkal takdir yang ditetapkan. Tangisnya membumi, bercampur isakan gelegar yang sungguh menyayat hati.

Berulangkali ditepisnya awan-awan yang bergelantungan, mencoba menghibur dengan sejuta gurauan. Hatinya beku, mengeras menjadi kerak-kerak yang membatu. Ada kegundahan yang membuncah, menyusupi setiap relung hatinya. Mengoyak paksa sudut-sudut jiwa.

Dirinya terpaku, kali ini membisu. Ingin rasanya dia melepaskan dari belenggu. Tapi dirinya bingung, linglung. Dari mana dan bagaimana dia membagi tanya. Ada rasa sesak yang menyeruak. Ada rasa bimbang yang menyerang, ada rasa takut yang bergelut, ada rasa bersalah yang semakin berdarah-darah. Semua bergumul menjadi satu dalam wadah kegalauan yang membuat pilu. Andai mampu mengulang waktu, andai mampu menghapus detik yang berlalu. Ingin dirinya mengubah masa lalu. Berdiri tegak tanpa belenggu.

 Langit semakin terduduk lesu, jiwanya menggeliat hebat. Ingin rasanya dia menyapa gunung di kakinya sekedar ingin berbagi apa yang dia rasa. Tetapi dirinya tak mampu,  lebih memilih diam dan bisu. Dirinya terpekur, mencoba untuk mengumpulkan syukur. Bersimpuh luruh dalam peluh. Menengadah kepada angkasa dalam setangkup doa, penuh harap dia meminta, Tuhan mendengar apa yang dia kata.

Surakarta, 26 Mei 2011
19.40 WIB

BALADA ANAK KOS

Mataku menunduk lesu,perut pun mulai bernyanyi pilu. Bagaimana tidak, dari pagi tadi belum terisi barang sesuap nasi. Aku menghela nafas dalam-dalam, ini hari ke dua puluh delapan. Masih 4 hari lagi bertahan di bulan yang sama, sedangkan uang di genggaman sudah tak ada. Air minum  pun tak bersisa melengkapi dahaga yang seharian menghinggapi kerongkongan.

Kugaruk kepalaku yang tak gatal, bagaimana ini. Akan makan apa aku malam nanti, esok pagi, dan 4 hari ke depannya? Kuputar otak, kuobrak-abrik uang tabungan, alhamdulilah masih ada beberapa receh uang lima ratusan. Kuhitung keping demi kepingnya, 5 ribu. Cukuplah untuk makan nasi kucing plus segelas es teh malam ini.

Segera kulangkahkan kaki, memberikan hak kepada perut yang sejak pagi tadi berdemonstrasi. Alhamdulilah, masih bisa makan untuk malam ini. Aku kembali memandang gemintang, berfikir keras bagaimana besok bisa mendapatkan uang. Untuk sekedar makan siang. Aku terdiam, berteman malam kulantukan sebait doa. Tuhan, Kau Maha Segalanya. Tak akan Kau biarkan diriku dalam kesusahan, begitulah segenap hati ini meminta. Kuputar otak begitu kerasnya, apa yang bisa kulakukan sekedar untuk mengumpulkan recehan, upah translatean jurnal mungkin baru akan kuterima dua tiga hari lagi. Lalu bagaiaman ini?

Aku memejamkan mata, tak tahu bagaimana hidupku esok harinya. Dan selang lima belas menit kemudian, sesuatu melegakan hatiku

” Tok..tok..”pintu kamarku diketuk. Kulongokkan kepala, ada kakak sepupuku di sana.
” Ini ada kiriman sangu dari budhe.” ujarnya sembari mengulurkan 2 lembar uang lima puluh ribu.”
” Alhamdulillah..” aku mengucap syukur yang tak terkira. Segera kuterima uang tersebut dan kuucapkan terimakasih kepada budhe lewat sms.

Dan tanpa dinyana-nyana, satu jam kemudian. Sebuah sms masuk, dari mama.
” Mbak, nomer rekeningnya berapa?”
Segera kubalas pesan dari mama. Kukirimkan beberapa digit angka yang sarat makna.
” Udah ditransfer mama 100 ribu, ” begitu jawaban selanjutnya.

Entah, hati ini menjadi gundah, bukan karena bimbang, tapi tak tahu harus bagaimana mengucap senang. Sujud syukur kuhaturkan kepada Allah, begitu banyak detil peristiwa yang dimudahkan olehNya. Yah, minggu ini aku benar-benar merasakannya, bahkan ketika aku menghadapi ujian coass, Dia juga memberiku banyak kemudahan.

Aku tersenyum, menatap kembali malam yang semakin temaram.  Kejadian demi kejadian ini, membuatku semakin tegak untuk berjalan. Seberat apapun rintangan, insya Allah pasti ada jalan...:). Karena Allah selalu di sisi, karena Allah tak kan pernah membiarkan kita sendiri.

Surakarta, 29 Mei 2011
*Saat bisa kembali tersenyum..:)

HANYA UNTUK HARI INI

Tahukah kawan, harta yang nilainya tiada terkira?Bukan emas, bukan pula permata, tetapi kesempatan masih hidup hari ini, masih bisa menikmati dan menghirup udara pagi, berkawan dengan segala kebisingan kendaraan dan berjuta kesibukan adalah harta yang tak tergantikan. Tak ada salahnya sesekali kita memberikan hadiah kepada hari ini, dengan segenap ucapan dan perbuatan setulus hati. Hanya dengan 10 kata yang mampu membuatnya bahagia.

Hanya untuk hari ini aku akan merasa bahagia. Karena kebahagiaan ada di dalam diri, bukan dari apa yang terjadi di luar hati.

Hanya untuk hari ini aku akan berusaha menyesuaikan diri terhadap realita yang terjadi dan tidak berusaha menyesuaikan segala sesuatu seperti apa yang kuingini. Akan kucoba menerima keluargaku, usahaku, dan keberuntunganku seperti saat mereka datang kepadaku dan mulai brusaha menyesuaikan diri dengan mereka.

Hanya untuk hari ini aku merawat tubuhku. Melatihnya, menyayanginya, mengurusnya, tidak menyakiti maupun menolaknya, hingga nantinya mampu menjadi mesin yang sempurna untuk mengerjakan apa yang kupinta.

Hanya untuk hari ini aku akan menggunakan fikiranku, Mempelajari sesuatu yang berguna dan tak kan menjadi seseorang yang bermental lemah.

Hanya untuk hari ini aku melatih jiwaku dengan berbuat baik kepada seseorang tanpa diketahui siapapun.

Hanya untuk hari ini aku merasa sependapat. Tampil sebaik mungkin dan berpakaian sepantas mungkin, berbicara dan bersikap penuh kelembutan, berlaku pemurah dengan pujian, tak akan mengkritik sama sekali, atau mencoba mencari kesalahan orang lain. Dan tak akan mencoba mengatur atau memperbaiki siapapun.

Hanya untuk hari ini aku mencoba untuk hidup dan melewati hari ini saja, tak akan berusaha menanggung semua permasalahan hidup seluruhnya.

Hanya untuk hari ini aku akan memiliki sebuah program. Akan kutuliskan apa yang akan kulakukan setiap jam. Mungkin kenyataannya aku tak akan mengikutinya dengan tepat, tapi setidaknya aku memilikinya. Hingga nantinya penyakit ketergesa-gesaan dan salah dalam mengambil keputusan akan berlalu begitu saja.

Hanya untuk hari ini aku menyisihkan waktu setengah jam saja untuk menenangkan diri. Melepaskan penat dan beban yang telah bergelantungan seharian.

 Hanya untuk hari ini aku tak akan merasa takut. Apalagi merasa takut untuk tak bahagia. Akan kucoba menikmati apa yang indah, untuk mencintai dan untuk percaya bahwa mereka yang ku cintai juga mencintaiku.

Dan hanya untuk hari ini, akan kuucapkan dan sekuat tenaga kulakukan setiap hari. Karena sekali lagi, hari ini adalah harta yang tak terbeli, karena kehadirannya tak kan datang dua kali..

Surakarta, 6 Juni 2011
21.10