Jumat, 04 Februari 2011

PELANGI WARNA-WARNI

Pelangi, indahnya warna tercampur di sana, tertuang dalam kanvas horizon ciptaan Sang Kuasa.  Siapa yang tak tertarik untuk mengejarnya?  Mengabaikan segala belukar dan selalu menengadah kepadanya. Tetapi, mungkin saja. Anda dan juga saya  mempunyai pelangi yang berbeda di atas kepala.

Pelangi dalam kehidupan adalah cita-cita yang kita impikan, target di masa depan. Seperti yang telah saya ungkapkan tadi, boleh jadi saya dan anda mempunyai pelangi yang berbeda. Saya menyukai warna ungu, jadi mungkin pelangi saya lebih berwarna nila ketimbang memamerkan merahnya, atau anda mungkin lebih menyukai hijau, sehingga perpaduan antara biru dan kuningya akan terlihat lebih nyata.

Tetapi bukan masalah seberapa bagus pelangi yang kita impikan, atau berapa warna yang berhasil kita raih. Tetapi usaha, segala peluh yang terbuang untuk meraihnya itulah yang utama. Barangkali, untuk mengejar pelangi kita harus melewati banyak duri, lubang yang menghadang, ataupun jurang yang menganga di depan mata. Mengeluh, ya itulah reaksi pertama yang percaya atau tidak sering kita lakukan. Berkesah, betapa susah kuliah bertahun-tahun lamanya, betapa menjemukan menunggu berjam-jam, betapa membosankan melakukan hal yang sama berulang-ulang. Pernahkah mengalaminya kawan?

Mungkin memang terasa menjemukan untuk kita saat ini. Tetapi bisa jadi hal tersebut akan berkesan di hari nanti. Dulu, saya selalu mengeluh setiap membantu ibu menjajakan es lilin di berkeliling desa. Malu rasanya, pun juga saya selalu protes ketika menemani ayah menyetorkan roti-roti seharga 500 rupiah ke toko-toko. Lelah, dan untungnya juga tidak sebanding dengan tenaga. Atau ketika dahulu, sewaktu masih TK saya selalu membeontak karena harus berjalan kaki pulang dan pergi sekolah 30 menit lamanya. Tetapi, sekarang sungguh saya akui. Saya merindukannya. Saya merindukan setiap jengkal masa yang dulu saya anggap menderita.

Seringkali pula saya mendengar, teman-teman mengeluh gaduh karena kuliah di kedokteran. Banyak tugas, kuliah yang tidak jelas, materi yang membuat pusing diri, pretes yang mengharuskan bangun jam  pagi, praktikum yang memakan banyak waktu dan segala keluhan lain yang akhirnya berakhir dengan kata ” Saya merindukan saat-saat kuliah, saya merindukan masa-masa ketika praktikum, saya rindu pretes pagi-pagi buta” ketika masa kelulusan tiba. Manusia aneh bukan? J

Atau bolehlah saya mengingat kembali, setiap detail perjuangan MOS atau biasa disebut GVT ketika SMA. Semua teman mengeluh gaduh karena tugas yang diberikan begitu kejam katanya. Tidak membiarkan sekalipun kita beristirahat karenanya. Belum lagi harus shit up  satu seri jika tidak tugas yang dikerjakan tidak sempurna. Yah, mengeluh, mencaci, mengata-ngatai. Tetapi itu dulu, ketika saya dan teman-teman mengalaminya pada saat itu. Tetapi sekarang? Jika ditanya, sebagian besar akan bercerita dengan semangatnya pengalaman-pengalaman yang mereka punya. Dengan riang, dengan tertawa, bahkan masih ada pula yang berkata. Saya merindukan saat-saat itu. Hei, kawan. Di mana caci makimu yang dulu??

Pun juga banyak orang yang mengeluh karena menunggu. Menceritakan semua kebosanan, mengolok-olok sistem, atau malah menggosipkan orang. Mereka bilang saat itu, ” Saya benci menunggu. Wasting time!! Buang-buang waktu” Dan sekarang, ketika mereka telah menjadi orang yang sukses. Yang mempunyai perusahan berpuluh jumlahnya dan sangat sibuk oleh pekerjaannya. Bahkan sekedar meletakkan pantat sembari menikmati secangkir kopi pun sudah tak sempat. Hehehe, lebay kalo ini. Mereka masih saja mengeluh. ” Saya  rindu waktu longgar seperti dulu. Bisa menunggu seseorang datang di bangku usang seberang taman. Memandang indahnya bunga-bunga yang sedang bermekaran atau berceloteh bersama arakan awan.” Duh..benar-benar tidak konsisten..:p

Atau di lain cerita. Teman saya pernah mengeluh karena sepi selalu melandanya. ” Saya benci seperti ini, tidak ada teman yang saya ajak bicara. Saya benci seperti ini. Saya ingin bunuh diri. Haduh gawat,”. Dan sekarang ketika Tuhan telah mengabulkan permintaannya, menjadikan dirinya sebagai orang penting yang ternama. Dikenal banyak orang dan selalu menjadi sasaran media masa. Bahkan harus masuk ke rumah tetangga untuk menghidari para fans nya, hehehe.. Dirinya malah berkata.” Saya rindu seperti dulu. Sendiri, tidak ada orang yang mengganggu. Mengintai setiap detail privasi saya dan menggembar-gemborkannya ke seluruh penjuru nusantara.” Wuaduh..ckckckck


Itulah mengapa kawan, boleh jadi kita terasa kesakitan melewati jalan yang berduri dan penuh gelombang untuk menggapai pelangi asa.  Tetapi ketika pelangi tersebut dapat kita gapai, kita akan mengingatnya, setiap detil perjalanan kita. Sempatkanlah, sesekali tengoklah kebun bunga di kanan kiri jalan yang kau lalui. Hidup ini indah, begitu indah. Janganlah terlalu terpaku akan cita-cita hingga kita melupakan indahnya hidup yang kita punya. Suatu saat nanti ketika kita telah menggapai apa yang kita inginkan, kita baru menyesali dan tersadar diri. Betapa banyak waktu yang tidak kita nikmati dalam perjuangan ini. Betapa banyak waktu yang harus terbuang percuma hanya untuk terfokus pada keindahan pelangi saja. Padahal indahnya hidup tidak hanya terpancar dari pelangi. Banyak keindahan di sekeliling yang dapat kita nikmati.

Jangan membuat diri kita terkotak-kotak sendiri. Menjadi seorang penulis, dokter, ataupun profesi lainnya bukan berarti kita tidak boleh menikmati ilmu yang lainnya. Kita hanya dituntut untuk tetap konstan dan profesional berada di jalan yang kita pilih, tetapi kita juga masih mampu menikmati keindahan ilmu lain sembari berlalu.  Ketika bercita-cita menjadi guru, jadilah guru yang banyak ilmu. Tidak hanya sekedar menjadi guru yang hanya mampu menjelaskan Fisika sesuai bidangnya. Tetapi jadilah guru sembari berjualan buku, mengupdate teknologi terbaru, olahragawan sejati, penulis andalan tanpa harus meninggalkan dan melupakan profesi sebagai seorang guru. Seringkali saat ini, kita terkotak-kotak dengan pemikiran sendiri. Saya seorang guru, soal komputer bukan urusan saya. Saya tidak bisa, Padahal sebenarnya siapapun orangnya pasti bisa jika mau belajar dan mencoba.

Hidup tidak hanya sekedar mengejar indahnya pelangi, karena banyak keindahan yang terpancar dari telaga senja yang kita lalaui, harumnya kembang dari taman bunga yang kiat lewati. Ditambah lagi rasa sakit karena tertusuk duri di perjalanan yang kita lewati. Yah, semuanya akan bergabung dalam kenangan untuk masa depan kita. Jadi ketika merasa bosan, jenuh, lelah, marah dengan apa yang anda lakukan saat ini. Ucapkan dalam hati, ”Aku akan merindukan hal ini, suatu saat nanti.”

Nikmatilah, sembari mengalihkan rasa sakit itu dengan memandang indahnya sinar mentari yang terbit di pagi hari..Jadikan hidup lebih hidup, karena hidup tak sekedar mengejar pelangi, karena adalah hidup yang akan selalu kita kenang suatu hari nanti..:)

KETIKA HATI HARUS MEMILIH


Dunia ini seperti sebuah kebun yang ditanami beraneka rupa bunga. Ada mawar, melati, tulip, bahkan bunga bangkai. Begitulah manusia, ada yang baik hati sepeti melati, ada yang tegas tapi menyakiti seperti mawar berduri, ada pula yang tak punya hati seperti bunga bangkai. Tetapi apapun mereka, tujuannya adalah satu. Mengisi kebun-kebun dunia, dan membuatnya harum serta berwarna.

Begitu juga diri kita. Seringkali penulis mendengar keluhan seseorang yang bingung harus memilih jurusan apa atau bersikap bagaimana karena pendapat orang tua bertentangan dengannya. Ketika penulis  tanya mengapa? Tak ingin membuat orang tua kecewa katanya.

Yah, memang hal yang luar biasa. Menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Tetapi bukan berarti kita harus mengikuti semua saran orang tua. Dalam hal ini yang penulis bahas adalah menentukan pilihan yang sama-sama baik. Orang tua mungkin menginginkan yang terbaik untuk anaknya dengan ”versi” mereka. Mungkin di mata mereka seseorang lebih bergaya menjadi seorang dokter, pilot, insinyur dibandingkan menjadi guru atau penulis. Sehingga mereka memberi motivasi dan menanamkan sebuah ”mind set” kepada anaknya bahwa profesi-profesi itulah yang dianggap oke punya oleh dunia.

Yah, mau tak mau sang anak yang telah terpola dengan ”mind set” tersebut hanya berkutat di bidang profesi itu saja, insinyur, dokter, atau pilot.  Dirinya ingin dibilang sukses oleh orang tuanya jika mampu menjadi salah satu di antaranya. Padahal sebenarnya dirinya lebih nyaman menjadi guru, fotografer, ataupun penulis. Dan parahnya lagi, sang orang tua akan semakin mengelu-elukan sang anak ketika sang anak mampu mencapai profesi seperti yang mereka inginkan. ” Anakku sukses sekarang”.

Menyedihkan memang melihat kondisi seperti demikian. Banyak orang tua yang mendidik anaknya agar bisa menjadi boneka tiruannya atau menjadi dirinya yang kedua, di mana dahulu dirinya tak mampu menggapai cita-cita yang diinginkannya. Sering terdengar cerita, sang ibu memaksa anaknya menjadi penyanyi karena dia gagal menjadi seorang penyanyi di masa mudanya. Atau sang ayah melarang sang anak menjadi pemain sepak bola karena trauma masa lalunya yang pernah cedera.

Lalu, harus bagaimana? Bukankah sebagai anak saya tak mampu mengecewakan orang tua yang telah membesarkan saya? Yang sangat menyayangi saya? Seorang teman penulis mengatakan demikian kepada penulis. Baiklah teman, sekarang penulis balik bertanya, ” Apakah kamu mampu melupakan mimpimu untuk kebahagiaan orang tuamu? Jika bisa, sampai kapan? Kamu yakin tidak menyesal? Seandainya orang tuamu telah tiada, apakah kamu masih ingin menggapai mimpi2mu yang dulu? Dan ketika engkau sudah tua dan terlambat menggapai mimpimu, kamu lalu berpasrah, ya sudah, memang ini jalanku. Mungkin ini takdirku, salah siapa??

Baiklah, walaupun penulis belum pernah mempraktekannya, tetapi tak ada salahnya penulis mencoba memberi solusi berdasarkan teori dan analisa-analisa, hehehe. Jika berguna syukurlah, jika tidak cocok  ya tak masalah.
Untuk mengatasi problem seperti ini harus diperlukan kerja sama dari orang tua dan anak itu sendiri.

Bagi sang anak
Janganlah berfikiran sempit, dengan menganggap bahwa kita bisa membahagiakan orang tua hanya dengan menuruti kata-katanya, keinginannya, atau pandangannya. Sekali lagi, orang tua juga manusia yang tidak sempurna, menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dengarkan saran, nasehat yang orang tua berikan, resapi dan fikirkan. Sesuaikah dengan hatimu? Mampukah kau menjalaninya? Jika engkau masih ragu, ikuti kata hatimu. Walaupun harus bertentangan dengan orang tua, tetapi tidak perlu engkau membantahnya dan beradu mulut dengannya. Cukup diam, tersenyum, dan mengangguk. Lalu, mulailah mengejar cita-citamu secara underground. Tak perlu cengeng, menjadi anak muda yang butuh dorongan orang tua, tetapi tetaplah tegar mengejar apa yang kita impikan. Yakinlah, ketika suatu saat engkau mampu mencapai apa yang kau impikan dan menjadi sukses. Penulis ternama, fotografer handal, guru favorit orang tua akan berusaha acuh kepadamu. Tetapi di dalam hatinya, akan ada sejuta rasa bangga di hatinya.

Jangan menyerah, kalaupun tak terucap kata bangga kepadamu dari bibirnya. Tetapi engkau mendapatkan yang lebih utama, Tuhan telah mencatat tiap tetes keringat yang engkau persembahkan untuk membahagiakan orang tuamu dengan ”caramu” sendiri. Yah, semua dinilai dari niatmu untuk membahagiakan mereka, bukan seberapa besar kebahagiaan mereka dari apa yang engkau bisa lakukan.

Bagi orang tua / calon orang tua
Mulailah dari sekarang untuk bersikap netral terhadap masa depan sang anak. Biarlah sang anak menentukan ke arah mana mereka berjalan, anda hanya perlu menjaganya agar tidak jatuh ke jurang. Bukan menuntunnya ke salah satu arah yang sebenarnya sang anak menyukai arah yang lain. Jangan menuntut terlalu tinggi, hargai setiap prestasi dan karya yang mereka bisa berikan. Banyak anak yang tidak maju, karena orang tua terlalu cepat menghakimi kalau mereka bodoh. Matematika hanya dapat 5, bahasa Inggris dapat 3. Padahal jika mereka sendiri menjalani, belum tentu mereka bisa mendapat nilai sempurna. Sampaikanlah pujian,

” Yah..anakku keren..matematika bisa dapat 5, besok ditingkatkan lagi ya.. matematika itu mudah kok nak, kalau ada yang tidak mengerti tanya ke ibuk ya..Biar bisa dapet nilai sempurna. Mau kan dapet nilai 10?”

Pujian, ya sedikit pujian ketika sang anak yang merasa sedih karena teman-temannya mengoloknya karena nilainya yang rata-rata benar-benar dibutuhkannya. Bukan sebaliknya, mencaci, mengata-ngatai bahwa sang anak hanya mengecewakan saja. Berlatihlah, bangga dengan apa yang anak kita raih.

 ” Anakku seorang pedagang kaki lima, dan aku bangga karenanya karena dia adalah pedagang yang jujur. Anakku seorang cleaning service dan aku bangga karenanya, karena dia mau bekerja dibandingkan berpangku tangan.”

Subhanallah, jika ada orang tua yang seperti itu pasti banyak yang mau jadi anaknya, hehehe.
Nah kawan, masihkah ragu atau bimbang? Percayalah banyak jalan untuk membahagiakan orang tua, tak harus menjadi seperti yang mereka inginkan. Tetapi dirimu harus yakin dan bersemangat, bahwa kamu bisa menjadi yang terbaik seperti apa yang kamu impikan. Berikan yang terbaik darimu untuk orang tuamu. Percayalah, akan ada penghargaan dari Tuhan atas setiap niat baikmu itu.

Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan untuk membahagiakan orang tua. 1 tujuan banyak jalan lebih menyenangkan. Nikmati hidup, galilah potensi diri, dan jadilah yang terbaik dari apa yang bisa engkau raih.

Orang lain menilai kita sukses dari apa yang kita lakukan untuk dunia
Kita menilai kesuksesan dari apa yang kita usahakan untuk menggapai mimpi kita

=Yogyakarta, 10 November 2010=

Selamat hari pahlawan. Bangkitlah pemudaku, bangunlah negara dengan caramu sendiri. Karena aku adalah aku, karena kamu adalah kamu, dan karena kita adalah kita bukan mereka.=)

NYANYIAN KARANG


Ketika di hadapanmu terdapat karang yang begitu kokohnya
Carilah celah yang sekiranya mampu untuk kau lalui
Karena, jika kau bersikeras untuk menerjangya
Kapalmu akan retak dan karam sia-sia...

Masa muda, masa dengan sejuta semangat baja. Di masa-masa itu segala ambisi dan semangat meletup-letup tak terkendali. Keinginan yang muncul dan idealisme yang tinggi memenuhi diri. Yah, memang hal ini merupakan suatu hal yang sangat wajar. Bahkan bisa dibilang, inilah ciri khasnya anak muda. Ketika banyak mahasiswa berdemo di sana-sini, memberi kritik, hingga mencaci maki. Apakah kata dunia? Wajarlah, namanya juga anak muda.

Tetapi apakah seharusnya masa muda kita harus identik dan terlabel seperti itu? Menjadi manusia kritis yang tidak mau mendengarkan penjelasan sama sekali? Berdebat dan berambisi untuk menjatuhkan, serta kadang tertawa congkak jika dirinya menang? Haruskah masa muda terlabel sebagai masa di mana idealisme terjunjung tinggi tanpa memperhatikan situasi dan kondisi seperti itu? Dan parahnya, semua itu dianggap sebagai hal yang wajar?

Mengapa tidak kita perbaiki segala image yang melekat pada masa muda kita itu. Penulis rasa ada baiknya masa muda kita dilalui dengan sikap dewasa dan bijaksana. Hal ini bukan berarti kita harus mengekor segala tingkah laku orang dewasa agar bisa bersikap dewasa atau harus menjadi sosok yang tua agar menjadi bijaksana. Tidak, kita tidak memerlukan menjadi mereka. Yang kita perlukan hanyalah diam, mendengarkan, dan belajar dari apa yang mereka katakan serta lakukan.

Pernah suatu kali saya melihat seorang anak muda yang menghadiri suatu seminar membabat habis sang pembicara. Kebetulan sang pembicara juga mempunyai sikap temperamental dan keras kepala. Sang anak muda dengan segala idealismenya tetap berpegang teguh pada keyakinannya bahwa dirinya memang benar dan terus menerus mendesaknya, sedangkan sang pembicara yang enggan menerima kritikan pun merasa bahwa dirinya lebih banyak makan garam dibandingkan dengan anak muda tersebut. Suasana memanas dan seminar menjadi kacau.

Atau dalam kehidupan lain seringkali terjadi perselisihan antara seorang junior dan senior. Sang junior yang merasa dirinya benar membabat habis-habisan, dengan congkak dia menunjukkan inilah ”saya” walaupun muda tetapi lebih pintar dari anda. Sedangkan sang senior merasa ” Saya lebih tau dari anda, jadi silahkan diam saja.” Dan apa hasilnya? Yang ada hanyalah saling tikam dari belakang dan saling menjatuhkan. Sang senior tidak sudi lagi membimbing sang junior yang tidak menghargainya. Padahal, jika sang junior mau sedikit bersabar, banyak ilmu yang bisa dia ciduk dari lautan pengetahuan sang senior.

Begitu pula dengan menghadapi orang tua. Sebagai manusia, tentu mereka pernah melakukan kesalahan. Sang anak yang merasa bahwa orang tua seharusnya tidak melakukan salah, mengingatkannya dengan nada kasar. Dan hasilnya, orang tua tersinggung. Pertengkaran pun tidak terelakkan.

Hal-hal seperti itu memang disayangkan. Padahal sebagai anak muda, jika mau sedikit lebih bersabar dan meninggalkan ke ”aku” an. Akan ada banyak hal yang dapat diperoleh dan dipelajari dari sang senior. Bukan berarti saya  menyarankan anda untuk tunduk dan takluk diperintah sesuka hati oleh senior anda, tetapi sebagai anak muda seharusnya anda mampu mencari sejuta cara untuk melihat celah diantara kerasnya karang hati sang senior. Percayalah, sekeras apapun pasti ada celah diantaranya.

Lihatlah seorang pandai besi, dia tidak pernah memaksa besi untuk membentuknya sesuai keinginannya. Karena dia tahu, hal itu akan menyakiti dan merugikan  dirinya sendiri. Dia gunakan api, dan hasilnya besi itu meleleh dan dapat dibentuk sesuai keinginannya.

Untuk itu temanku wahai khalayak muda. Tidak perlu menunggu dewasa untuk menjadi dewasa, tidak perlu menunggu tua untuk menjadi bijaksana. Sekarang juga anda bisa. Jika bertemu karang, jangan kau terjang, diamlah sejenak dan carilah celah diantaranya, pasti anda akan  mampu sampai di pulau impian.

Mengalah bukan berarti kalah, mengalah pun bukan berarti menang
Tetapi mengalah adalah jalan untuk memecahkan masalah
Dengan sedikit mengalah engkau akan memperoleh banyak hikmah



CURHAT BUAH TOMAT


“ Kita boleh saja mengambil semua tomat yang tumbuh subur di ladang, bahkan yang masih muda pun dapat kita petik, tetapi jangan lupakan kapasitas  tempat kita untuk menampungnya. Jangan sampai, tomat yang tidak kebagian tempat malah jatuh berceceran. “

Dunia ini penuh dengan pilihan dan peluang, itulah mengapa banyak pepatah mengatakan bahwa kadangkala kita memang harus dituntut untuk memilih. Bagaimana tidak, mungkin anda juga pernah mengalaminya, banyak acara yang harus dihadiri dalam satu waktu bersamaan. Atau lebih ekstrimnya lagi, banyak tawaran kerja yang mengalir dan semua sayang untuk ditolak.
Sebagai manusia, merupakan suatu hal yang wajar jika muncul keinginan dalam diri untuk menghadiri semua acara dan menerima semua tawaran pekerjaan. Keinginan atas penghargaan (esteem need) dan aktualisasi diri (self-actualization needs) yang menggebu membuat seseorang  menyanggupi semuanya.
Saya adalah salah satunya, seringkali saya menyanggupi banyak event karena memang saya tertarik akan event-event tersebut. Saya berfikir dengan membagi waktu rata saya bisa menjalaninya. Namun apa yang terjadi, kebanyakan darinya tidak menelurkan hasil yang maksimal karena saya tidak bisa fokus kepada salah satu event. Dan ketika saya mencoba sedikit profesional dan perfectionist, saya sendiri yang mengalami kepayahan luar biasa. Badan letih, pikiran semrawut, tidak jarang emosi meledak keluar dan orang-orang di sekitar saya menjadi sasaran. Hingga akhirnya saya menyadari. Bahwa  sebelum kita berangan, sebaiknya kita menilik lebih dahulu kapasitas diri kita untuk menampung banyak asa tersebut.

Benar adanya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Atau bolehlah bermimpi menjadi seorang insinyur yang sekaligus merangkap sebagai penulis, dokter, wirausaha, ustadz, dan yang lainnya. Akan tetapi lihatlah kapasitas diri kita, mampukah kita menjadi dokter, penulis, insinyur, wirausaha, ustadz, yang profesional dalam waktu yang bersamaan? Jangan-jangan semua hanya berakhir dengan prestasi yang maaf, ” ecek-ecek” saja ? Mungkin akan ada yang menjawab ”pasti bisa”, tetapi apakah telah terfikirkan berapa banyak tenaga yang akan terkuras karenanya. Istilah jawa mengatakan ”ngoyo” atau terlalu memaksakan diri, sehingga pada akhirnya tidak sempat menikmati indahnya kehidupan itu sendiri.


Saya akhirnya memutuskan untuk memilih  profesi yang akan saya tekuni, memasang target impian jangka dekat dan impian jangka panjang. Menunda mimpi, bukankah tidak berarti melupakan mimpi?

Jika engkau tak mampu menjadi lautan yang luas
Jadilah sungai kecil  terbaik  yang akan terus mengalirinya
Jika engkau tak mampu menjadi kebun yang indah
Jadilah mawar terbaik  di antaranya
- Dale Caringe-

Kata-kata di atas tidak serta merta mengajak anda untuk menyerah dan pasrah. Menjadi sungai kecil yang terbaik saat ini, bukan berarti melupakan mimpinya menjadi lautan hebat nan luas. Menjadi mawar yang terbaik saat ini bukan berarti harus melupakan mimpi menjadi kebun bunga yang indah. Tetapi, sebuah impian pun juga memerlukan tahapan. Jika tidak, maka impian itu akan mudah dirobohkan.

Bukankah banyak, seseorang sukses yang berawal dari ”nol”? Awalnya mereka hanyalah pekerja bawahan. Mereka bersyukur dan berusaha menjadi pekerja bawahan yang terbaik. Seiring waktu, mereka naik pangkat, dan akhirnya mampu menjadi direktur dan manager. Sekali lagi, impian pun juga memerlukan tahapan.

Mimpi, harapan, kegiatan, ambisi, dan keinginan. Semua tumpah ruah di dalam hati dan terkadang  kita ingin menggapainya secara bersamaan. Akan tetapi, sekali lagi mari melihat kemampuan diri kita, sesuaikanlah dengan kapasitasnya. Tetaplah mengejar mimpi tanpa meninggalkan nikmatnya kehidupan dengan cara membuat prioritas terhadap mimpi-mimpi kita tersebut. Jangan sampai tomat-tomat yang ranum kemerahan, akhirnya jatuh bergelimpangan karena terlalu memaksa memetik tomat muda dan menyesakkannya ke wadah kita.