Senin, 25 April 2011

BERIKAN SENYUM YANG TERSISA

Perempuan itu masih memandang nanar ke arahku. Hujan menderas dari kelopak matanya yang indah.
” Ya bagaimana lagi mbak, saya juga sudah pusing. Punya anak kok seperti ini..”
Aku memandang masygul perempuan kecil di sebelahnya. Kulihat dirinya tersenyum memamerkan deretan gigi ompongnya.
” Adek kelas berapa??” tanyaku sembari membelai rambutnya.
” Kelas 5 SD.” ucapnya sembari berrjalan kesana kemari. Sesekali dia meloncat naik turun di atas kursi periksa. Aku memandangnya sedikit iba, anak sebesar ini tapi belum mengerti etika atau memang tidak mengerti aku tak menggubrisnya.
” Memang aktif begini ya bu sejak kecil?” aku kembali memandang ibunya.
Ibunya menggeleng pasrah dan lemah. ” Tidak mbak, sejak kejang 8 bulan yang lalu dia jadi seperti ini. Prestasi belajarnya juga mulai menurun. Biasanya masih mendingan dapat nilai 7 atau 8 sekaran nilainya tak ada yang lebih dari 5. Oalah mbak, punya anak kok seperti ini. Sudah bodoh tambah bodoh pula..” ujarnya penuh penyesalan.

Aku tersentak mendengarnya, pun juga sepertinya gadis kecil itu tak menyangka ibunya berkata seperti itu.
” Ingin jadi apa dek kalau sudah besar?” tanyaku kepadanya. Pelan tapi pasti.
“ Aku pengen jadi guru kak..” ucapnya sangat bersemangat. Hatiku gerimis memandang kobaran asa yang terpancar dari mata beningnya.
” Kalau mau jadi guru adek harus rajin belajar ya...” ujarku sedikit menghibur.
” Iya mbak, kemaren sudah konsultasi ke psikologi anak. Kata dokternya anak saya harus sering-sering belajar meski sebentar-sebentar. ” sang ibu menyahut.


Aku tersenyum, kembali memandangi gadis kecil berkerudung hitam itu.
” Belajar mulai yang disenengi aja dik. Adik suka pelajaran apa?”
” Aku suka bahasa indonesia mbak. Aku seneng membaca, tapi suka kebablasan bacanya, kadang nggak ngeliat ada tanda titik atau koma.” katanya polos.

Aku terbahak dalam hati, tapi hanya mampu menunjukkan sesungging senyuman untukknya.
” Apa bisa mbak dia jadi guru. Orang sudah cacat seperti ini. Sudah gak normal otaknya.”
Aku mengehela nafas dalam. Epilepsi ternyata menimbulkan gangguan pada perkembangan  kecerdasan dan mentalnya. Tapi entah mengapa, ada rasa tidak tega mendengar sang ibu berkata seperti itu. Walau aku sendiri tak tahu bagaimana prognosis penyakitnya.

” Ibu tidak boleh berkata seperti itu” aku berkata sedikit keras. Sang ibu pun juga agak terkejut mendengarku yang berkata tak selirih biasanya.

” Sebagai ibu, ibu harus memberi dukungan pada adik. Ibu mungkin malu mempunyai anak seperti adik, cacat, tidak seperti anak kebanyakan. Ibu mungkin akan merasa begitu terbebani dengan semua itu. Tetapi pernahkah ibu berfikir? Bagaimana menjadi adik? Bertahan dengan segala kekurangannya, berimajinasi dengan mimpi-mimpinya, dan lebih malang lagi, dia seorang diri. Karena keluarga yang seharusnya mendukungnya, malah mencacinya, tak menerimanya. Lalu dia harus mengadu kemana?? Ibu harus kuat, ibu harus tegar. Kembalikan semua pada Allah, Dia yang memberi, Dia juga yang mampu mengobati. Ibu harus sabar. Ibu harus tabah,” aku berapi-api berkata kepadanya.

Kulihat hujan semakin deras, mengguyurkan buliran bening dari mata indahnya. Dia terisak. Kemudian merangkul lembut putri kecilnya.

” Terimakasih ya mbak...saya akan mencoba menerima semua musibah ini dengan lapang hati.”
Aku tersenyum, lagi-lagi hatiku gerimis, hanya mampu berucap dalam hati..Semoga Allah mengabulkan segala yang kau cita dan cinta yang kau ingini..:)



**Ketika anakmu tak seperti yang kau harapkan, tetap bersabarlah, berikan senyum yang tersisa kepada mereka. Karena seyumanmu akan menguatkannya, dan mengobarkan kembali impian yang hampir padam.

Surakarta, 16 April 2011
18.39
Catatan ke-111 semoga berguna...:))




KETIKA HATI HARUS MENANTI

Detik berlalu begitu lambatnya. Merangkak perlahan melewati jarum-jam  yang tak beraturan. Nafasnya terengah, setengah gelisah. Sesekali dirinya berhenti, tetapi kemudian dia memilih berlalu kembali. Pelan tapi pasti.
Aku mendengus memandangi pucuk-pucuk yang menari ke sana  kemari. Ini sudah puku lima, tetapi yang kutunggu tak datang juga. Kemanakah gerangan? Mataku menerawang menembus awan yang berarakan, saling berkejaran dan menghasilkan barisan yang sungguh menawan. Sesekali kualihkan pandangan ke arah kolam yang lebih mirip kubangan. Berisi ikan-ikan sekarat yang bertahan hidup dalam air yang berwarna coklat.

” Kau menunggu seseorang?” tanyanya.
Aku mengangguk.
”Iya, aku menunggu seseorang.” kataku mantap.
” Siapa?” tanyanya.
” Jodohku, aku menunggu jodohku,” ujarku. Kali ini agak setengah ragu.
” Bagaimana kau tahu jodohmu akan datang?”
Aku memicingkan mata ke arahnya. Ragu-ragu akau menjawabnya.
” Bukankah itu yang telah Tuhan janjikan kepada umat-Nya??”
” Tapi taukah kau waktunya?? Apakah Tuhan mengatakan kepadamu jadwal yang pasti?” dia semakin membuatku ragu.
Aku menggeleng, sedikit lemas. Tapi setidaknya masih ada harapan yang aku simpan.” Aku tak tahu kawan, kapan dia datang.” Aku menunduk, menyadari bahwa ternyata diri ini begitu bodoh, menunggu tanpa tahu waktu.

” Dan kau akan terus seperti ini? Menunggu setiap hari?” Dia berkata semakin sinis.
Aku terdiam, ” Bukankah aku memang harus menunggu? Karena janji Tuhan akan menjadi nyata bukan?”
Dia tersenyum. Memandangiku sembari bertanya dengan seyuman yang mengembang. ” Kau bosan tidak seperti ini? Menunggu dan terus menunggu? ”
Aku mengangguk. Lemas. Mau tak mau aku harus mengakui bahwa aku bosan menunggu.
” Lalu mengapa kau masih saja seperti ini?” tanyanya, nada bicaranya mulai meninggi.
” Menurutmu aku harus bagaimana?”
” Maukah kau mendengarkan nasihatku?”
Aku mengangguk.


” Baiklah duduk di sini dan dengarkan. Kau tahu bukan, jodoh akan datang. Dan Tuhan telah menjanjikannya. Bahwa setiap nyawa akan hidup secara berpasangan. Memang tak salah kau menunggu waktu itu datang, tapi kapan dan dengan siapa. Hanyalah Tuhan yang tahu rahasia di balik semuanya. Yang aku sesalkan hanyalah kau terlalu membuang-buang waktumu untuk sebuah penantian. Coba lihatlah dirimu, kumal begitu. Sudah berapa harikah kau tak mandi? Sudah berapa lamakah kau tak menyapa Sang Ilahi?Apakah kau yakin, jodohmu mau menemuimu dalam keadaan seperti ini? Ayolah kawan. Kembalilah pulang, rawatlah dirimu, perbaikilah hatimu. Dan jangan kau habiskan waktu hanya untuk menunggu. Banyak hal yang bisa kau lakukan. Banyak cita yang harus kau kejar.”

” Tapi, jika aku tidak menunggu di sini. Jodohku akan pergi. Dan aku akan kehilangan dia..” tanyaku ragu.
Dia terbahak. ” Kau tahu kawan. Jika  dia jodohmu, dia tak kan lari mesti kau tak di sini. Malah sebaliknya, dia akan mencarimu di mana pun engkau menunggu. Karena Tuhan telah memberikan tanda di mana kau berada.”
Aku tersenyum, mataku berbinar. ” Benarkah demikian kawan??” Dia mengangguk.

” Iya, jika kau percaya padaNya, jangan pernah khawatirkan sedikitpun janji-janjiNya. Nikmatilah setiap penantian ini dan gunakankah untuk hal-hal yang berguna dan berarti. Perbaikilah dirimu, karena kau adalah cerminan dari jodoh yang diturunkan Tuhan untukmu.”

Aku mengangguk. ” Baiklah kawan. Akan kugunakan setiap detik penantian ini dan mengisinya dengan hal-hal yang berguna. Hingga nantinya akan kugapai  keduanya, cita dan cinta.”
Dia tersenyum, kemudian berbalik pergi. Tenggelam bersama lukisan senja yang mulai kemerahan. Yah, bayang-bayang itu akan kembali suatu saat nanti, pengingat hati di kala lupa diri.

Surakarta, 16 April 2011
22.10
Untuk seseorang, terimakasih telah mengajarkanku akan arti cinta yang sebenarnya..:) 


BUANG KEBAIKAN DENGAN CUMA-CUMA

Terik mentari masih asyik menyambangi setiap sudut bumi. Sinarnya tajam, mengelupas setiap jengkal tanah yang mulai menganga. Penuh akan dahaga dan kerinduan akan rinai hujan yang menyambanginya. Wanita tua itu masih terduduk di sudut taman, memandang nanar udara sekitar. Nafasnya kembang kempis, seolah terlalu susah memasukkan liter demi liter udara yang dihirupnya. Sesak yang dia rasa, meski disekelilingnya pohon-pohon raksasa menjuntaikan lengan-lengan kokohnya, pun daun-daunnya dengan suka rela memberikan bergalon-galon oksigen kepadanya.

” Ada apa dengan mu? Aku lihat sedari tadi kau merenung pilu..” sang beringin mulai menyapanya.

Wanita tua itu memandang sang beringin dengan tatapan sayu. Hatinya gerimis. Entah darimana dia akan memulai untuk bercerita, tetapi perlahan-lahan keluar juga kata-kata dari mulutnya.

” Aku merindukan anak-anak angkatku. Rasanya sesak. Mengingat mereka yang tak pernah menjengukku.”

” Bukankah kerinduan itu menyenangkan???”

” Tidak, sama sekali aku tidak menikmatinya. Ini bagaikan sayatan belati yang digoreskan tajam-tajam ke ulu hati. Jika aku mengingat kembali apa yang sudah aku lakukan kepada mereka, rasa-rasa aku menyesalinya. Bagaimana tidak, siang malam aku membuang tenaga bekerja untuk menghidupi mereka. Tetapi sekarang? Ketika  mereka menjadi orang ternama. Mereka lupa kepadaku. Bahkan sekedar memberikan kabar untukku saja mereka tak mau.”


” Kau menyesal???”

” Entahlah, tetapi aku sakit hati diperlakukan seperti ini..” sang wanita berkata lirih.

” Lalu apa yang kau mau dari mereka??”

Wanita itu terdiam, memandangi rerumputan yang mulai tumbuh dengan liar. ” Setidaknya mereka mengucapkan terima kasih kepadaku. Meski aku bukan ibu kandung mereka.”

Sang beringin tergelak. Wanita itu melotot. ” Mengapa engkau menertawakanku??” Apakah salah jika aku berfikiran seperti itu?”

Sang beringin terdiam, tersenyum sembari memandang tajam sang wanita.

” Begini nyonya, kau tahu? Adalah hal yang wajar jika kebaikan yang kau lakukan tak mendapat balasan. Sikap tidak berterimakasih itu alamiah, dia akan tumbuh liar, seperti rerumputan di halaman. Sedangkan sikap berterimakasih adalah sesuatu yang dipupuk, seperti mawar yang tumbuh subur karena mendapatkan siraman air dan pupuk kandang. Jadi biasakanlah hidup tanpa terimakasih, ini adalah hal alamiah. Kau hanya akan mendapatkan kegalauan dan rasa sakit hati, jika selalu mengharapkan ucapan terimakasih dari setiap kebaikan yang kau beri.”

Wanita itu tertunduk. Buliran bening membanjiri pipi keriputnya.

” Sudahlah, tak usah kau menangis. Jika kau rindu sampaikan kerinduanmu kepada mereka. Tetapi jangan pernah mengharapkan ucapan terimakasih dan balas budi dari mereka. Biarlah mereka mengunjungimu, merawatmu dengan setulus hati, bukan karena sebuah balas budi. Karena engkau bukanlah pemberi hutang. Kau hanyalah tangan yang dipercaya Tuhan untuk merawat mereka. Jadi jangan pernah merasa memberi, karena kita bukanlah siapa-siapa. Buanglah kebaikan dengan cuma-cuma, tanpa mengharapkan sedikitpun imbalan atasnya” sang beringin tersenyum sembari mengangguk-angguk senangnya. Dahan-dahan kecil yang bergelantungan di pundaknya pun tergoyang-goyang mesra.

Wanita itu tersenyum mengangguk. Dihelanya nafas panjang-panjang dan dihembuskannya bersama segala sesak yang dia simpan rapat begitu lamanya. Yah, ikhlas membuat semuanya menjadi ringan, tanpa beban.

Surakarta, 22 April 2010

* Saat merindukanmu ibu...Pengen pulang...:(((( 

Jumat, 04 Februari 2011

SAAT HIJAU MUDA MENJADI HIJAU TUA

Ujung daun bambu itu masih merunduk, menatap kosong tanah basah yang menggelut di ujung kaki batangnya. Sesekali dirinya menggeliat, menatap nanar dedaunan jati yang basah di sekitar. Yah, semalam embun telah memandikan mereka, mengupas tuntas daki dan menjadikan mereka tegak kembali.

Dirinya mendesah, sekali dua kali dirinya membiarkan tergoyang ke sana kemari. Menampilkan parade lemah gemulai tersenggol larian angin dengan arah yang tak pasti. Dia terpekur, dalam hening pagi yang kemerahan. Rambut hijau mudanya bergerak-gerak ke segala arah, dimainkan bayu yang suka berpolah. Tapi dia memilih diam.Tak terasa air matanya mengalir, mengelus lembut batang-batang kuning bergerigi di bawahnya, membangunkan mereka dari tidur yang sungguh lelapnya.

Mereka menggeliat, memandang ke atas meski silau mentari pagi menerpa mereka. Memaksa mereka memandang dengan mata yang sungguh sipitnya.

” Mengapa engkau menangis, nak? ” tanya sang batang tertua. Warnanya tak lagi berwarna hijau tua, tetapi sudah menguning kecoklatan.

Daun bambu muda itu menggeleng. Terdiam dan semakin terisak.

” Sudahlah, berhentilah menangis. Berceritalah, apa yang bisa kubantu. Kali-kali ada nasehat yang bisa kubagi denganmu.”

Daun muda itu memandang ke arah batang tua, ditatapnya lekat tanpa sisa.


” Aku sedang sedih. Aku merasa tak berguna dan tak berarti apa-apa. Bagaimana tidak, daun-daun yang telah berwarna hijau tua itu mencampakkanku. Mereka menganggapku anak kecil yang tak seharusnya tahu menahu. Mereka menganggapku pecundang, dan parahnya kali ini aku benar-benar merasa sebagai pecundang. Bagaimana tidak, tak seberapa banyak klorofil yang bisa aku sumbangkan untuk kalian, hanya beberapa bungkus kecil saja yang bisa aku setorkan. Dan mereka mengejekku, mereka bilang aku bukanlah makhluk berguna. Kau dengar kan?Ketika hembusan angin datang, seringkali aku dengar mereka berbisik bergesekan, membicarakanku. Menggunjingku dan mencaciku, terkadang juga mereka juga sengaja menempatkan aku di tempat  ini. Di pucuk yang paling tertinggi, kau tau kan??Di sini angin sangat besar, sangat mengerikan menghadapinya. Dan mereka mencari aman saja, jika sekali dua kali sinar mentari tak sampai ke bumi, mereka mencaciku. Aku disangka terlalu menutupi cahyanya. Padahal kau tahu, lebarku pun tak seberapa. Ah..apapun yang aku lakukan, selalu salah, semua salah...”

Daun bambu itu terdiam. Pun begitu batang tua itu.


” Padahal dulu mereka pernah muda seperti ku kan sebelum mereka menjadi daun yang hijau ? Apa mereka banyak berguna? Lalu mengapa? Setelah mereka mempunyai banyak kemampuan dan ketrampilan mereka mencaciku ?menginjak-injakku??Apakah seperti ini dunia nyata wahai batang tua??”

Batang tua itu tersenyum. Digoyangkannya perlahan badannya yang bergerigi, sehingga menimbulkan goyangan lembut yang meninabobokkan sang daun muda.

” Anak muda, inilah dunia. Tak selamanya yang terjadi seperti apa yang kita pinta. Banyak sekali yang meminta dan baik hati ketika masih menjadi daun muda sepertimu, tetapi ketika sudah menjadi daun tua yang punya kuasa dan ilmu. Mereka lupa, mereka telah melupakan sejatinya bahwa mereka dahulu adalah juga daun muda. Mereka hanya bisa mencaci dan menyombongkan diri. Yah, inilah hidup dan inilah nyata. Hanya saja, jika aku boleh berpesan kepadamu. Jadikan ini pelajaran untuk hidupmu kelak. Jadilah daun tua yang berkuasa, tetapi tetap mau memandang tanah yang menghidupinya, tetap mau menengok daun muda yang berada di ujungnya, yang melindunginya dari teriknya mentari yang menghujam bumi. Tetap tersenyumlah meski dunia tak lagi ramah. Semakin engkau bisa mengambil arti semakin engkau bijaksana nanti. ” bambu tua itu berkata sembari mengelus jenggot panjangnya.

Daun muda itu terdiam. Dia tersenyum, ada secercah sinar yang menghangatkan hatinya. Mencairkan hatinya yang membeku pilu. Hangat, mengalir ke seluruh urat-urat  hijau mudanya. Dia mengangguk dan sekali lagi tersenyum bergoyang gemulai dengan riangnya ketika sang bayu menyapanya.

”Suatu saat nanti, aku akan menjadi daun hijau tua yang baik hati dan tak lupa diri,” janjinya dalam diri  dan dia ikatkan erat-erat dalam sudut hati.

=Rani Alzena=

KETIKA AWAN BERBAGI CATATAN

Awan tipis menggantung, terayun-ayun dalam dahan-dahan langit yang membiru. Arakannya semarak, menciptakan coretan tak beraturan dalam kanvas kehidupan. Indah, laksana buih-buih kapas yang berterbangan bebas, lepas, dan tak kenal batas. Sesekali mereka tersenyum, menyembulkan pelangi di sudut-sudutnya. Lega rasanya menumpahkan rinai hujan seharian, hingga akhirnya bisa terbebas dari muatan air yang menjadi beban.

Dia tersenyum sedikit mengejek kepada layang-layang yang putus asa karena tak mampu menggapainya. Diombang-ambingkan ke sana kemari oleh bayu yang tak tahu diri. Kadangkala ditengoknya gunung-gunung yang berlomba-lomba menghampirinya. Berdiri tegar dan tak tergoyahkan oleh badai-badai yang menghadang. Atau sesekali diliriknya sawah-sawah petani yang mulai kekuningan. Menghaturkan aroma gembira kepada pemiliknya karena sebentar lagi masa panen akan tiba. Tapi kali ini dirinya menggerutu, meratapi bahwa apa yang dilihatnya tidak seperti dulu.


” Ah, rasanya bosan aku memandangi mereka setiap kali. Selalu saja merka melakukan kebodohan. Dulu, aku masih sering melihat hutan-hutan berdiri kehijauan, tetapi sekarang. Mereka lebih suka mengikuti trend mode jaman sekarang. Membabat habis rambut mereka hingga gundul tak bersisa. Padahal aku benci melihat batang-batang gundul tak bertopi. Dan dulu, sungai-sungai itu masih berwarna biru. Memantulkan sinar gemerlapan tiap kali cahaya mentari datang menghujaminya. Tapi sekarang, keruh warnanya. Penuh dengan tanah dan sampah-sampah. Paling-paling yang berubah adalah gedung yang menjamur di sana-sini. Mengambil alih sawah dan tanah lapang tak bertuan. Sungguh pemandangan yang sangat membosankan, ” ujarnya.

Diselonjorkan tubuh tambunnya yang bergumpal-gumpal pada horizon yang kemerahan. Dirinya mulai terlelap perlahan dibelai semilir angin daratan yang berhembus ke lautan. Begitulah yang dia lakukan setiap harinya, hanya memandangi bumi dari singgasana empuknya. Dia sangat sensitif, seringkali ketika menonton film drama air matanya menetes habis tak bersisa, dan sebagai imbasnya banjir akan terjadi di mana-mana. Pun dia juga suka menonton bola, setiap teriakannya ketika ”GOL” tercipta akan menelorkan guntur yang maha dahsyat, bahkan kaca-kaca rumah di bumi pun ikut bergetar karenanya.

” Ah...benar-benar parah..” ucapnya suatu pagi ketika dirinya mengintip bumi dari balik terali besi kamarnya. Tampak di pandangannya hutan yang rata dengan tanah setelah dilalap si jago merah, rumah terendam air bah, dan orang-orang tertimbun longsoran tanah.

” Hidup apa ini,” dia mencaci. ” Kenapa pula mereka tak bisa menjaga diri dan lingkungannya sendiri. Ah, manusia memang makhluk  pembuat bencana.” cacinya lagi. Dirinya terbatuk. Akhir-akhir ini kesehatannya memang menurun. Maklum saja, usianya telah menua. Uban di rambutnya juga telah penuh di kepala.

Dan begitulah seterusnya. Yang dilihatnya setiap pagi adalah bumi yang semakin rusak. Manusia serakah yang tak tahu diri, mengorbankan harga diri dan kehormatan demi mencari sesuap nasi. Hingga tak lagi dia sanggup untuk menonton segala parade kerusakan di muka bumi.


Dihelanya nafas dalam-dalam. Hari ini adalah waktunya dia kontrol kesehatan. Setelah bertahun-tahun lamanya dia tak peduli akan kesehatannya. Ketika dia memeriksakan ke ahli mata, betapa kagetnya dia ketika sang ahli berkata.

” Mata Anda sudah berkurang ketajaman penglihatannya. Sudah tua, hingga pandangan Anda menjadi kabur. Cobalah Anda pakai kacamata yang saya beri. Gagangnya terbuat dari bahan husnudzon yang  tinggi, kacanya terbuat dari bahan yang enggan mencaci dan penuh introspeksi. Saya yakin setelah ini Anda akan merasakan perubahan yang berarti.”

Sang awan mengangguk. Awalnya dia terdiam ragu, tetapi dilakukan juga saran ahli mata yang memeriksanya. Dia kenakan kacamata itu. Dan dipandanginya sekitar, terang. Lalu ditengoknya kembali bumi yang menyiksanya beberapa hari ini. Ajaib, setiap jengkal tanah di atasnya, menyajikan keindahan yang tak terkira. Taman penuh bunga bermekaran, pohon-pohon hijau berambut gondrong kehijauan, sawah-sawah siap panen, dan sungai yang mengalir kebiruan. Dia tersenyum dan menyadari. Ternyata selama ini dia salah menilai. Tak ada salah dengan bumi yang dipandangnya, tetapi kesalahan itu ternyata ada di pandangannya dan cara dia memandangnya...


CATATAN YANG TERSERAK


Rasa haru menyeruak menyesaki dada, ketika menatap lekat lelaki separuh baya di depanku.Tubuh yang semula tambun kini mulai mengurus dan mengeriput, kantung-kantung kelopak matanya pun semakin besar, menunjukkan kelelahan yang teramat sangat. 


Lelaki pendiam itu terus saja meneruskan kesibukannya, tak sadar bahwa aku mengamatinya dalam-dalam. Dengan sisa sedikit tenaga dan rasa kantuk yang terpaksa tertahan, dia mempersembahkan pijatan cinta untuk istri tersayangnya. 


Laki-laki itu telah yatim piatu sejak SMA, ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya. Waktu itu dia masih berusia 3 tahun, sedangkan ayahnya meninggal ketika SMA. Mencangkul sawah, jualan, menjadi rutinitas pekerjaan yang dijalaninya. Namun kemiskinan bukanlah hambatan untuk tak bisa mengenyam pendidikan. Dengan beasiswa, akhirnya dia bisa menraih gelar sarjana. 

Air mata ini mulai tertahan di pelupuk, memaksa untuk menyembur keluar tanpa kecuali. Tapi aku masih bertahan. Terbayang kelelahan yang sangat, setelah membanting tulang seharian dan mengurusi pekerjaan rumah tangga, dia masih saja dengan setia meluangkan waktu untuk istrinya. Belum lagi jika harus menyetir ketika berpergian berjam-jam lamanya. Dia masih saja bertahan menunda waktu lapar dan lelahnya dan lagi-lagi hanya untuk istrinya.

Aku teringat dialah orang yang paling protektif kepada ku, ketika teman laki-lakiku maen ke rumah. Dia adalah orang pertama yang menemui. Menanyakan darimana, ada keperluan apa, siapa, mirip seorang polisi yang menginterogasi tawanan habis-habisan. Ketika aku mulai bernjjak dewasa, dan pergi ke Jogja untuk menimba ilmu. Dialah orang yang menyarankanku untuk berhijab, menutup aurat rapat-rapat, dengan 1 kata wanti-wanti..”Jangan mau diboncengkan oleh laki-laki yang bukan mukhrim mu sendiri” 



Dialah orang yang selalu menelfonku tiap minggu, menanyakan apakah aku pulang atau tidak ke kampung halaman. Melepas rajut-rajut kerinduan dan menggantikannya menjadi rasa kelegaan. Ada rasa bersalah dalam diriku ketika dengan terpaksa aku berkata “ tidak” karena banyak urusan perkuliahan atau karena akan maen dengan teman-teman.


Dialah ayahku. Lelaki tegar yang selalu menyayangi keluarga. Setia dengan 1 istri walaupunn tak dapat memberikan banyak hal kepadanya. Dia mengajarkan aku akan arti mencintai dengan ketulusan, mencintai tanpa mengharap balasan, mencintai dengan sabar agar yang dicintai dapat menjadi yang lebih baik.


Dialah ayahku, yang memberiku banyak inspirasi. Tak pernah ku dengar sepatah kata keluhanpun di bibirnya, Mengeluh kalau lelah, marah, bosan, ataupun sebagainya. Tetaplah bertahan ayah…Semoga surga di lapisan tertiunggi adalah balasan terhadap penderitaan dan kesabaranmu selama ini. Tetaplah bersemangat ayahku. Karena kamu adalah inspirasiku, semangat di saat aku mulai lunglai menghadapi pahit getirnya kehidupan. …..Karena kau lah lelaki terhebat yang pernah aku temui selama aku hidup. 

PENGANTIN DIDIKAN ALAM

Pagi hampir datang, kubuka mata dan kusiapkan segantang semangat untuk membuka lembar baru. Kuintip jendela, kulihat embun mulai berkemas akan meninggalkan pucuk daun yang telah memberinya tumpangan. ” Kau mau kemana ” tanyaku ingin tahu. Sang embun menghentikan kesibukannya, sembari tersenyum dia berkata, ” aku harus pergi, mentari akan datang sebentar lagi.” Aku tertegun. ” Apa kau membenci mentari? Dia telah membuatmu bersusah payah pergi tanpa tujuan pasti. Embun menggeleng. “ Kami saling mencintai dan merindukan, meski sekalipun aku tak pernah melihat wajahnya yang indah. Dia mengajarkanku untuk berbagi dan menghargai. Ketika malam tiba, dia rela bersembunyi di balik gunung untuk memberiku kesempatan merasakan nikmatnya tidur di ujung dedaunan, terayun-ayun dinina bobokan. Sebaliknya ketika fajar hampir menjelang, aku berkemas. Karena aku tak ingin dia menahan penat seharian bersembunyi di balik bebukitan. Kadang ketika aku terlambat bangun dia bersembunyi di balik mendung, hingga aku terjaga dan menyadari bahwa pagi telah tiba. Sebenarnya aku ingin bertemu dengannya, sekedar mengucapkan terimakasih atas kebaikan yang dia beri selama ini. Namun dia melarangku, dia berkata jika aku memaksakan diri bertemu dengannya, aku hanya akan menjadi uap air dan menguap begitu saja ke angkasa. Aku sungguh mencintainya meskipun sekalipun aku belum pernah melihatnya,” si embun berkata dengan binar matanya. Aku takjub, menahan haru yang menyeruak dada.


Mentari mulai meninggi, sang embun pun segera pergi. Aku melangkah keluar rumah. Kugerakkan badan sembari mengamati sekeliling. Aku melihat pohon mangga masih tertidur dengan pulas. Sementara benalu yang bertengger di dahan-dahannya dengan rakus mengambil sari makanan yang telah dia siapkan” Hei, kau jangan rakus, ” teriakku. Benalu berhenti mengunyah, dia melirikku. ” Mengapa kau mau enak saja? Tak mau bekerja tetapi hanya menumpang di rumah orang,” ujarku geram. ”  Si benalu mulai angkat bicara, ” Tau apa kamu tentang aku dan si mangga. Kau tahu? Dia bisa sampai pulas seperti ini karena aku yang selalu mendongengkan sebuah cerita untuknya. Kau tahu? Dia sering insomnia. Sering dia menangis di tengah malam karena tak ada kawan yang sanggup terjaga. Hingga aku datang mengunjunginya, dia merasa sangat bahagia. Dia tak ingin aku pergi. Buktinya dia tak pernah sekalipun mengusirku. Malah setiap lilitan ku disambutnya dengan mesra.” si benalu menjawab dengan begitu acuhnya lalu meneruskan sarapannya. Tak peduli dengan diriku yang masih menatap mereka dengan heran. Aneh, begitu pikirku.

Aku mulai melangkahkan kaki. Ingin segera mandi. Namun, lagi-lagi aku menatap nanar sang ulat yang bertengger manja di daun mawar yang hampir berbunga. Sembari menghirup udara pagi yang menyejukkan dia mengikis sedikit demi sedikit daun yang dia tempati. ” Hei, ulat tak tahu diri. Mengapa kau tega menghabisi mawar yang memberimu tumpangan. Tak tahu balas budi, ” seruku pilu. Sang ulat terbelalak, lalu tersenyum. ” Taukah kau wahai manusia. Mawar memang baik hati dan aku mengakuinya. Ketika aku linglung berjalan tak tentu arah, dia mempersilahkan aku tinggal di rumahnya yang mewah. Dia ijinkan aku untuk menikmati sepuasnya daun yang dia punya. Aku benar-benar terharu. Tapi bukan berarti aku tak tahu balas budi. Aku hanya perlu waktu untuk dapat membalas kebaikannya. Aku juga tidak terus-menerus menjadi parasit untuknya. Jika telah tiba saatnya aku akan menjadi ulat yang dewasa. Di mana saat itu aku telah siap untuk bersemedi. Jika lulus ujian, aku siap bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang menakjubkan. Dengan sayapku aku akan membantu perkawinan antara benang sari dan putik sang mawar sehingga dia bisa mempunyai keturunan. Mungkin apa yang aku lakukan tak bisa membalas apa yang dia berikan, tapi memang hanya itu yang bisa aku lakukan. Dari hati yang terdalam,” sang ulat menatapku tajam. ” Terserah jika kau tak percaya,” ujarnya kemudian.

Aku terdiam. Tanpa kata. Embun dan mentari tak pernah bertemu tetapi saling merindu. Benalu dan pohon mangga menciptakan sebuah elegi untuk saling melengkapi. Ulat dan mawar, saling memberi dan berbagi dengan cinta dan ketulusan. Bagiku mereka adalah ” pengantin semesta” yang tak terpisahkan. Pengantin semesta didikan alam. Yang tercipta bukan untuk saling menyalahkan. Namun, tercipta untuk saling mengisi dan melengkapi. Mereka mampu mensyukuri apa yang ada di sekeliling mereka. Karena mereka percaya bahwa Tuhan menciptakan umatnya tidak untuk hidup seorang diri.