Jumat, 04 Februari 2011

KUE SERABI TERNIKMAT

Di suatu malam nan dingin. Ketika rembulan enggan menampakkan dirinya, aku berjalan menyusuri emper tetokoan. Menerobos pekatnya malam untuk bernostalgia dengan kota Yogyakarta. Orang bilang kota ini adalah kota yang eksotis, penuh dengan sejuta peristiwa dan selaksa makna. Begitu juga denganku, kota ini telah berhasil menyajikan kenangan manis, semanis gula-gula kegemaranku waktu masih belia dahulu. Legit, dan sungguh menyenangkan.

Kuhentikan langkah ketika melihat seorang nenek tua yang duduk di pojokan jalan berteman panci adonan dan tungku pembakar. Aku mendekatinya. Hmm, nenek itu menjual kue serabi kegemaranku. Aku tertarik mencicipinya. Yah, cuaca yang dingin seperti ini memang lebih lengkap jika diselingi yang hangat-hangat. Suatu bentuk pepaduan rasa yang akan menenangkan jiwa.

Serabine kaleh nggih ,mbah1)
 Nggih neng, di dhahar mriki?” 2)

Aku mengangguk.
Sembari menunggu serabi pesananku, aku tergelitik untuk memandangi wajah tua yang penuh keriput itu. Dia sendirian, tanpa seorang pun teman. Dengan perlahan dituangkannya adonan tepung beras ke dalam cetakan berbentuk lingkaran. Diaduk-aduknya perlahan lalu ditutupnya dan kemudian dia diam, menunggu hingga matang. Matanya memandang nanar  seperti mencari-cari munculnya gemintang.

 Malam itu bayu berhembus cukup kencang, membelai lembut setiap jiwa yang dilewatinya. Aku bergidik, rasanya dingin menjelajahi setiap sendi dan tulangku. Tetapi wanita tua itu tak bergeming, dia masih saja asyik menjelajahi setiap sudut jejalanan yang mulai lenggang. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi dia terlihat begitu menikmatinya.

Putrane pinten mbah ?” 3) tanyaku memcah keheningan.
Tigo neng.” 4) jawabnya.
Lha simbah sadeanipun piyambakan ?” 5)
Dia mengangguk.
Anak kulo sampun merdamel sedanten dateng Jakarta, boten datheng griyo.” 6)
Mboten ndherek putranipun kemawon mbah? Kan boten usah sadean dalu-dalu kados mengaten? 7)
Dia menggeleng.
Mboten neng. Kulo boten purun ngrepoti anak-anak kula. Mireng piyambakipun sampun sukses kemawon kulo pun remen” 8)

Aku terharu, lidahku kelu. Siapa sangka seorang penjual serabi di depanku ini mempunyai tiga orang yang menjadi pengusaha sukses di kota Jakarta. Dan dia lebih memilih untuk tidak merepotkan anak-anaknya, tinggal di gubuk kecil seorang diri dan hidup dari berjualan serabi.

Bagi dirinya, apa yang dia lakukan untuk membesarkan anak-anaknya selama ini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan untuknya. Sesuatu hal yang sangat dinikmatinya, walaupun dia haus menjadi tulang punggung utama sejak suaminya meninggal dunia. Tak pernah sedikitpun terfikir olehnya untuk menerima sedikitpun imbalan atas jerih payahnya.

Aku memandang langit yang mulai kelam. Entah mengapa, ada rasa menyeruak di dalam hatiku. Ayah, ibu, kakak, adik,  sahabat, keluarga, dan teman-temanku. Sedang apa kalian di sana? Sudahkah kalian bangga dengan diriku? Dan seberapa berartinya aku buat kalian? Aku mendesah. Sepertinya yang terjadi sebaliknya, aku yang selalu merepotkan kalian. Mengeluh gaduh akan getirnya kehidupan.

Aku teringat beberapa hari yang lalu ketika meminta motor kepada orang tuaku. Dan ketika mereka tidak mengabulkan keinginanku, amarahku muncul begitu mudahnya. Jiwaku menuntut bahw sudah seharusnya mereka mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya,  bagaimanapun keadaannya. Padahal yang terjadi, bukannya mereka tak mau menuruti keinginanku, tetapi mereka tidak mampu. Gaji ayah yang tidak seberapa, ditambah dengan gaji ibu yang tidak menentu. Ah, ayah, ibu. Maafkan aku. Bukannya meringankan bebanmu, aku malah selalu merepotkanmu.


Aku pun teringat kejadian kemarin, belum sembuh luka karena pertengkaranku dengan Dian, sahabat kentalku sejak aku masih belia. Hanya karena nilaiku yang lebih tinggi darinya dia menghindar dariku. Padahal selama ini aku selalu menolongnya, membantunya mengerjakan tugas-tugasnya. Alih-alih mengucapkan terima kasih, yang ada malah umpatan cacian bukannya rasa setia kawan. Ah, mengapa dunia ini penuh dengan manusia tak tahu balas budi. Aku mendengus.

Tetapi malam ini, hatiku terketuk. Jiwaku berdetak. Nenek tua ini seharusnya berhak untuk mendapatkan hasil dari jerih payahnya menghidupi anaknya selama ini. Dia berhak hidup enak, mewah, dan berkecukupan. Tetapi mengapa dia lebih memilih sendiri? Sebegitu besarkah rasa cinta kasih seorang Ibu kepada anak-anaknya? Ibarat sebuah sungai yang tak henti-hentinya memberikan air kepada lautan?

 Ah, aku malu-benar-benar malu. Ketimbang diriku, nenek tua ini lebih berhak mendapatkan semua kenikmatan hidup. Tetapi dia tidak menuntut, malahan dia senang walaupun hidup memprihatinkan. Tidak tebersit sedikitpun penyesalan telah membesarkan anak-anak yang tidak tahu balas budi itu.  Ah, betapa malunya aku. Aku bukan apa-apa dibanding nenek penjual serabi itu.

Aku menerima semangkuk serabi yang disodorkan nenek itu. Yah, serabi adalah makanan kesukaanku. Percampuran antara tepung beras yang tidak berasa dengan kuah gula jawanya yang amat manisnya menciptakan sebuah filosofi bahwa untuk menghasilkan kue serabi yang enak, kedua bahan itu harus saling melengkapi. Begitu pula kehidupan, akan lebih berwarna dan terasa bermakna jika bisa saling melengkapi, saling mengisi kekurangan dan juga kelebihan.

Aku masih asyik menyeruput kuah gula jawa. Orang di Yogyakarta lebih suka menyebutnya ”juruh”. Sepintas kupandangi lagi nenek tua di sebelahku, dan aku terkejut ketika kudapati dirinya yang sedang membaca hafalan doa walau dengan terbata-bata dan hanya bisa membaca dari tulisannya di bawah lampu kota yang berpijar temaram.

Lagi, aku tercekat. Setua itu, sang nenek masih bersemangat belajar. Di saat orang-orang seumurannya telah menyerah karena merasa telah ”bau tanah”, nenek ini malah semakin yakin bahwa belajar itu tidak pandang usia.

 Aku tertunduk. Rasa malu benar-benar menguliti diriku, Habis tak bersisa. Diriku yang masih muda hanya mengenal foya-foya, meminta, dan tidak pernah berusaha. Untuk sembahyang saja pun begitu susahnya. Nanti sajalah kalau sudah tua, selalu begitu fikirku. Padahal diriku tahu, umur dan kematian bukanlah urutan kacang. Yang tua belum tentu mendahului yang muda, begitu sebaliknya.

Jalanan semakin lenggang tanpa terasa habis sudah serabiku tanpa sisa. Segera kusodorkan beberapa lembar uang ribuan kepada nenek penjualnya. Serabi dan nenek tua itu mengajariku akan hidup yang indah. Hidup tanpa mengharap kata ” terimakasih” ataupun balas budi. Dia mengajariku untuk melakukan kebaikan untuk dilupakan, dan melakukan kesalahan untuk diingat agar tidak terulang di kemudian hari. Dia juga mengajarkan kepadaku, bahwa menuntut ilmu itu tak kenal waktu. Ah, indahnya hari ini. Memperoleh pelajaran yang begitu berarti. Terimakasih mbah, serabimu adalah santapan jiwaku yang paling nikmat.

Lebih baik kuterima 1 kata terimakasih dari hati
Diantara 1000 kebaikan yang kulakukan
Daripada aku menerima 1000 terimakasih
Tetapi hanya sebuah kata basa basi....

Keterangan :
1) Serabinya dua ya, mbah (Mbah : sapaan untuk orang lanjut usia di Jawa)
2) Iya neng, dimakan di sini?
3) Anaknya berapa, Mbah?
4) Tiga, Neng.
5) Lha simbah jualannya sendirian?
6) Anak saya sudah bekerja semua di Jakarta, tidak di rumah.
7)Tidak ikut anaknya saja, Mbah? Kan tidak usah berjualan malam hari seperti ini?
8) Tidak, Neng. Saya tidak mau merepotkan anak-anak saya. Mendengar mereka sudah sukses saja saya sudah senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar