Jumat, 04 Februari 2011

HIKAYAT KOTORAN SAPI

Langit penuh. Ditumpahkannya pelan-pelan, gerimis dari perutnya yang buncit. Udara membeku, membuat sang surya enggan beranjak dari peraduannya. Aku suka pagi seperti ini. Bau sawah dengan wangi padi yang mulai menguning. Tak sabar rasanya melihat wajah gembira pemiliknya ketika masa panen tiba.

Aku menggeliat malas. Dingin membuatku menarik kembali selimut coklatku. Aih…tiba-tiba aku merasa ada yang menginjak kepalaku. Kudongakkan kepala, Tono anak manusia itu mengeluh gaduh. “ Sial..aku menginjak kotoran sapi,” Dia mulai mencaci dan mengata-ngataiku. Aku memandangnya sendu. Kuusap kepalaku yang sedikit botak karena sebagian rambutku menempel erat di kakinya.

Aku menerawang pilu. Mengapa banyak orang meremehkanku. Taukah kawan  aku punya suatu rahasia, baiklah akan aku ceritakan kepadamu tentang diriku yang sebenarnya. Aku memang hanyalah berasal dari ilalang, temanku bekatul dan saudaraku air comberan. Kami berkolaborasi dan akhirnya sukses masuk ke dalam tubuh sapi. Kalau ingat bagaimana perlakuan sapi kepada kami, aku jadi tak ingin masuk ke tubuhnya lagi. Tubuhnya hangat memang, tapi kami ditendang ke sana kemari oleh ususnya. Banyak prajurit-prajurit mikroba dan enzim-enzim yang dikeluarkan sehingga kami menjadi hitam legam seperti ini. Dan lihatlah, badanku menjadi bau busuk karena fermentasi.


 Awalnya aku menyesal akan takdirku. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Aku malah disayang oleh majikankku. Dipakainya aku sebagai pupuk tanaman. Mereka yakin aku mempunyai sifat  dermawan, sehingga jika dekat denganku tanaman-tanaman itu tak akan kurang makan. Kadangkala, ketika majikanku tak punya uang aku digadaikan ke pasar demi beberapa lembar uang ribuan.

Aku ikhlas. Malah senang. Lalu di suatu pagi ada seseorang peneliti dari kota memakaiku untuk menghidupkan kompor rumahnya. Awalnya aku tak yakin akan bisa, tapi setelah ku coba. Ternyata aku mampu. Hebat, ternyata Tuhan memberikan banyak mukjizat untukku. Sejak saat itu aku aku sering digunakan dan dikenal dengan sebutan Biogas.

Hari demi hari berlalau, sebuah lembaga di Jakarta mengubah biogasku menjadi inovasi yang lebih baru. Sumber listrik!! Aku dikenal sebagai bioelektrik. Bahkan aku juga sempat menggantikan solar jika dia mulai kelelahan. Senangnya bisa memberi penerangan di tengah gulita malam.

Dan tak habis sampai di situ kawan. Tahun 2009 ada sekelompok mahasiswa yang menggunakanku sebagai bahan pembuatan batu bata. Tambah lagi deh gelarku, EcoFaeBrick. Begitulah mereka menamaiku. Senang tak terkira hatiku, bahwa ternyata EcoFaeBrick 20% lebih ringan dan 20% lebih kuat dibanding batu bata dari tanah liat.

Aku bersyukur rasanya. Ternyata ada banyak hikmah dibalik hitamnya diriku. Busuk dan lembeknya badanku. Tuhan memang Maha Kuasa. Nah, kawanku manusia. Sekarang aku tanyakan kepadamu, bisa-bisanya engkau mencaciku. Sudahkah engkau bercermin? Apa yang bisa kau lakukan untuk orang lain? Seberapakah berharganya engkau di mata mereka? Jangan-jangan engkau kalah berharga dibanding diriku ini, seonggok kotoran sapi.

CURHAT SETETES TINTA

Saya tergagap ketika seseorang yang membaca sebuah tulisan saya bertanya, “ Lalu bagaimana dengan si penulis?”. Saya hanya bisa menjawab, “ Penulis pun juga masih berusaha menjadi lebih baik dan segala sesuatu itu butuh proses”. Tetapi entah mengapa, pembaca tersebut sepertinya bernafsu sekali untuk menguliti saya habis-habisan. Seakan-akan memberikan putusan dalam siding pengadilan atau secara implisit dirinya ingin berkata, “ Sebelum kamu berbicara atau menulis, lihat saja diri kamu pantas tidak berkata seperti itu. Jika memang kamu sendiri belum bisa menjalani tak usah banyak bicara”. Benar-benar pukulan yang telak. Saya pun tidak pernah menyangka medapat komentar sepedas itu. Padahal ketika menulis, niat saya hanya ingin berbagi dengan teman-teman di samping  untuk melatih kemampuan menulis saya agar tidak tumpul. Tidak ada maksud sama sekali untuk menggurui, bahkan saya menyerahkan hak kepada mereka untuk sependapat ataupun tidak terhadap tulisan saya.

Jujur, setelah kejadian itu saya menjadi tidak bersemangat. Tak ada gairah sama sekali yang meletup-letup seperti dahulu. Setiap membuka leptop saya menutupnya kembali, baru satu bait saya tulis sudah saya hapus lagi. Saya benar-benar berfikir keras, dan takut jika tulisan saya salah lagi. Tetapi semakin saya berfikir, saya semakin mengalami kebuntuan. Perasaan saya hilang, padahal untuk menulis suatu inspirasi itu dibutuhkan imajinasi. Sampai akhirnya saya menyerah, 1 hari saya lalui tanpa satu buahpun naskah.Sia-sia.

Hingga akhirnya ada seorang teman berkata kepada saya, ” Menulis itu adalah membaca berulang-ulang. Oleh karena itu menulislah tentang kebaikan, harapan, dan impianmu. Agar ketika engkau membacanya untuk mencari kesalahan kata engkau menemukan semangat lagi, ketika engkau membaca untuk mencari kesalahan tulisan engkau berani bermimpi lagi. Menulislah seperti mimpi-mimpimu, harapanmu, keinginanmu walaupun engkau belum mampu menggapainya. Tak perlu menjadi sempurna lebih dahulu untuk menulis, tetapi tulisanmu yang akan membawamu menjadi lebih baik. ”



Saya kembali tegak berdiri mendengarnya. Senyuman melebar bagaikan mawar yang bermekaran. Yah, menulis adalah bagian dari jiwa. Tak hanya menjadi hobi, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup. Saya kembali menyingsingkan lengan baju, merangkai kata demi kata di atas lembar baru. Tetapi kali ini saya meluruskan niat untuk menulis tentang kebaikan. Agar ketika suatu saat saya membacanya kembali saya bisa menjadi lebih baik lagi.

Jika engkau menginginkan aku untuk berhenti menuangkan tinta
Tantanglah dahulu mentari yang membagi sinarnya
Apakah dirinya mampu berhenti berbagi kepada dunia
Yang sudah menjadi separuh bagian hidupnya..

AKU DAN BAYANG-BAYANG

Hidup ini sulit. Penuh dengan liku yang sangat tajam. Begitu aku selalu berkata pada bayang yang selalu mengikuti kemana ku pergi. Entah mengapa dirinya selalu setia denganku padahal aku selalu mengabaikannya dan menyuruhnya untuk berada di belakangku bukan di sampingku.

Dengannya aku mengeluh gaduh, berceloteh tentang segala penat yang aku lalui hingga saat ini. Entah, walaupun aku bosan selalu dikuntit. Tetapi mau tak mau aku akui, dia adalah teman yang menyenangkan. Selalu ada untukku, mendengarkan segala keluh yang aku ungkapkan. Dan lebih menyenangkan lagi, dia adalah pendengar yang baik. Tak pernah menyela ketika aku bercerita. Yang pasti aku merasa senang, bisa menumpahkan gulana yang menyesakki dada.
Kadang aku heran kepadannya. Tak juga dia bosan menemaniku memandangi pekatnya malam, sembari mendengarkan kisahku yang ”itu-itu”. Yah, mengeluh tentang kehidupan. Tentang getirnya sebuah perjalanan. Menumpahkan tiap-tiap inchi langkah penuh duri yang selalu membekas dalam ingatan. Mungkin dia pun telah hafal akan roda kehidupan yang kujalani, bagaimana tidak, dia pun ada di dekatku saat itu tepatnya menguntit di belakangku. Tanpa aku ceritakan pun sepertinya dia telah tahu. Tapi dengan senyuman  dan berteman diam dia masih saja mendengarkan, keluh yang sama dan berulang-ulang.

Itulah mengapa sore itu aku terkejut. Ketika mendengarnya menyela. Waktu itu aku sedang berceloteh bersama dengannya  dibawah temaram matahari senja. Dia menyela ketika aku menyanyikan kembali lagu lama. Mengingat luka yang berkali aku kata telah terobati walau nyatanya malah semakin bernanah. Aku menatapnya, dalam hati aku berkata ” Apakah dirinya sudah bosan mendengar ceritaku?”. Tetapi jawabannya sewaktu itu benar-benar menyentakku.

”Aku iri denganmu,”

Aku memandangnya heran.

” Kau iri denganku? Bagaimana bisa? Hidupku hanya penuh dengan luka dan duri. Penuh dengan ranjau bahaya yang dapat menghancurkanku  kapanpun dia mau. Bagaimana kamu bisa iri dengan orang yang mempunyai kaki penuh bekas luka duri? Apa yang kamu iri kan?”


“ Tidakkah kau sadari? Bahwa selama ini kau hafal setiap inchi langkah yang kau jalani. Ada lubang di sebelah mana, ada ranjau seperti apa. Bahkan kau pernah merasakan sakitnya tertusuk duri, merasakan sakitnya jatuh di lubang, merasakan kecemasan akan letak ranjau yang selalu mengintaimu. Kau punya cerita, kau punya warna dalam hidupmu. Hidupmu tidak berlalu dengan monoton. Hidupmu begitu indah. Sedangkan aku, aku hanya bayang-bayang yang mengikutimu dari belakang. Jalanku lurus tanpa rintangan. Bagaimana tidak, ketika engkau jatuh di lubang, aku tentu tak akan melewati lubangmu, tak akan pernah melalui duri yang melukaimu. Aku memilih jalan yang tanpa rintangan. Hingga kita sampai di tempat tujuan bersamaan. Kita sama, tetapi engkau lebih punya banyak cerita untuk dibagi, bahkan engkau mengingatnya di luar kepala, Sedangkan aku, yang ku tahu adalah jalan di depanku selalu lurus, tanpa kelokan dan rintangan. Selama ini aku diam bukan karena aku tak mau berbagi denganmu. Tetapi karena aku tak punya kesah untuk diceritakan, karena aku tak punya pengalaman yang menakjubkan. Hidupku lurus, hidupku terlalu sempurna.  Semua berjalan seperti yang kuinginkan. Tak ada peristiwa yang membuatku terpuruk, terjatuh, bahkan bersedih.
Hidupku hambar, bahkan aku tak mampu mengingat setiap jengkal langkahku. Aku tak punya kenangan.” ujarnya menunduk sedih.


Aku memandanginya iba. 

” Ya sudah, mulai sekarang berjalanlah di sampingku. Jangan berjalan di belakangku. Tetapi jangan  pula kau mendahuluiku. Kita berjalan bersama, dan kamu akan merasakan apa yang aku rasa. Jangan bersedih lagi. Aku mengijinkanmu mencicipi kenangan  yang kulalui, sedikit berbagi denganmu pasti lebih menyenangkan. Ada teman di tiap langkah perjalanan, lagipula pasti akan banyak kenangan yang bisa kita ciptakan berdua. Sudahlah, usap air matamu. Tresenyumlah karena senyummu akan memekarkan kuncup yang melayu.” ucapku menghiburnya.

Dia mengangguk lalu perlahan dirinya menghilang bersama tenggelamnya mentari di balik bebukitan. Walaupun dia tidak nampak, tetapi aku tahu. Dia masih ada di sini. Di dekatku.

=Rani Alzena=

AKU DAN HUJAN

Hujan membumi, menyapa mesra kuncup-kuncup yang dahaga akan rinainya. Perlahan-lahan rintiknya yang halus berjatuhan, membasahi tanah kering kerontang tak bertuan. Disajikannya aroma tanah yang menyejukkan, seperti layaknya gelontoran es degan dikala kerongkokan tercekik oleh rasa haus yang melanda. Memang, beberapa hari ini mentari lebih dominan menguasai peradaban dengan sinar teriknya. Tak dipedulikannya dedaunan yang mulai gerah dan ulat-ulat yang bertengger di baliknya mulai tak betah. Tapi bagaimanapun juga, tidak ada yang istimewa dan berubah dari alam yang kutengoki setiap hari, atau lebih tepatnya aku tak peduli dengan perubahan itu.

Sekilas ku tatap anak-anak hujan yang berlari riang ketika menyentuh tanah. Menciptakan gemericik orkes yang perlahan mulai kunikmati alunannya. Yah, aku telah melupakannya. Bahkan untuk mendengarkan dendang gratisnya pun seringkali aku tak sudi, dan lebih memilih bergelut erat dengan selimut tebalku sepanjang hari. Masa bodoh dengan tawanya, toh tidak akan mengobati luka yang ada, malah sebaliknya hujan hanya mengingatkanku tentang kesedihan.

Dan sungguh, berulangkali aku harus menyumpah serapah. Ketika colekan manjanya menyentuh mantolku yang basah karenanya. Aku benar-benar tak suka, sedikitpun aku tak ingin berkawan dengannya. Bagaimana mungkin? Aku lebih memilih teronggok di pembaringan ketimbang harus berdamai dengan makhluk itu, makhluk menyebalkan bernama hujan.



Aku pun sebenarnya tidak mengerti kenapa aku begitu membencinya. Tetapi karenanya aku terlarut sekian lama akan kenangan-kenangan yang takkan terlupa. Yah, setiap memandanginya akan nampak di depanku, indahnya tawa bermain bola bersama kawan-kawan di bawah rintiknya, atau memancing di hilir sungai ketika hujan mengalir begitu derasnya, dan berjuta kenangan lain yang tergores bersama jatuhnya hujan. Macam apa itu? Bisakah kau bayangkan kenangan-kenangan itu terpaksa menyembul memenuhi rongga hatimu? Lalu apa yang akan kau lakukan? Mengulanginya kembali seperti dulu?

Bisa- bisa orang menganggap aku setengah gila ketika makhluk kepala dua seperti ku bergabung dengan parade anak-anak desaku berkecimpung dalam genangan hujan sembari tertawa lepas tanpa beban. Yah, begitu menyesakkan, ketika tak mampu kembali mengulang kenagan-kenangan indah yang terpatri di hati.

Sungguh, meskipun hujan masih saja setia mengetuk daun jendela kamarku, mendesesis mengiba mengajukan proposalnya maafnya kepadaku. Aku masih tak mampu, sekalipun untuk memandangnya. Biarlah dia terus berteriak di luaran sana. Sekali lagi, aku tak peduli.

IJINKAN AKU MEMANDANG SALJU

“ Ijinkan aku memandang salju..” kata itu selalu terucap di setiap sujudku. Mungkin engkau akan menilai aku kampungan, pun mungkin pula kau akan menilaiku sebagai seseorang yang menyedihkan. Tetapi aku tak peduli. Kenyataannya aku bukanlah seorang dengan gelimpangan harta, yang punya cukup uang hanya sekedar untuk melihat salju ke Jayapura. Apalagi hingga ke Eropa.

Ijinkan aku memandang salju, sebelum nanti aku menutup usiaku. Bersama segelintir harapan semu, yang aku tanamkan di dalam kalbu. Sesekali inginku memandang butiran indahnya, merasakan derajat suhu ekstrimnya, walau banyak orang bilang salju itu menyusahkan tetapi bagiku itu adalah sebuah kerinduan.


Baju-baju putihnya yang bersih selalu membayangi setiap anganku. Memaksa khayalku untuk menggapainya, menyentuhnya di ujung-ujung dedaunan yang merunduk berat olehnya. Dengannya kusandarkan angan, bersama sejuta harapan akan kerinduan negeri orang. Yah, aku ingin salju membawaku ke sana. Ke tempat di mana aku bisa mengukir segala cita dan cinta.

Mungkin engkau bilang aku tak bangga dengan nusantara, atau aku bukan orang yang cinta produk Indonesia. Sebaliknya lebih parah kau akan mencaci bahwa aku tak mensyukuri apa yang Tuhan beri. Tetapi apa daya, memang itulah mimpi yang selalu merangsuk masuk setiap malamku. Menyuplai pembuluh jiwa yang mulai dahaga akan aliran darah penuh asa. Yah, salju telah memantikkan semangatku, salju telah menerbangkan impianku. Salju membuatku bermimpi dan terus mencoba ketika gagal menghinggapi dan saljulah yang membuatku berdiri saat aku terjatuh ketika berlari.

Jadi jika aku boleh meminta kepadaMu Sang Maha Kuasa, ijinkanlah aku memandang salju. Bersama cita yang tergantung di dalamnya. Bersama tiupan angin pengharapan yang berhembus karenanya. Meskipun tak selamanya aku mampu berselimutkan bekunya, ijinkan aku memandangnya, meski hanya sekejap mata.

CERITA PAGI BUTA

Langit abu-abu. Digelontorkannya separuh air yang terkandung penuh dalam perut buncitnya, perlahan tapi pasti ditumpahkannya gerimis hingga membumi, menyapa setiap kuncup yang berusaha membuka kelopaknya dengan segenap tenaga yang dia punya. Pagi ini memang tak seperti pagi sebelumnya. Tak ada semburat cahaya jingga yang berebutan di ufuk timur mega. Mereka pulas, terayun-ayun dalam buaian angin kehidupan.

Pukul 03.30. Beku masih terasa menusuk tulang-tulang kayu bambu yang berselimut gelugut coklat susu. Aku menggeliat, melemaskan penat yang bergelantung manja di sendi-sendi diri. Menghempaskan mereka tanpa ampun, terkapar dan tak kembali. Sadarku masih bersembunyi, dirinya enggan menampakkan batang hidungnya, kedinginan sepertinya. Kupaksa dia kukerjapkan mata melihat sekeliling dan kubuka jendela. Lagi, dingin itu membabat habis tubuh ringkihku hingga badanku bergetar tak karuan.

Masih terasa, sisa tangis semalam. Membekaskan sembab pada kelopak yang membengkak. Menguras habis cadangan air mata yang aku punya. Ah, hidup kenapa penuh derita. Tak bisakah sekali saja aku berdiri menatap mentari dengan riang hati? Tak bisakah sekali saja aku menikmati harumnya mawar tanpa harus tertusuk duri? Jika memang hanyalah ujian, kapankah kelulusan diumumkan? Nyatanya yang ada bukanlah bahagia, tetapi malah ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Ah, hidup apa ni. Aku tak percaya lagi dengan kata-kata pujangga yang selalu berkata. ” Berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian.” Yang ada hanyalah bersakit dahulu tak pernah senang kemudian. Aku mendesah, tak mau kalah dengan hembusan angin yang membuat dedaunan goyah.

Masih kutelanjangi pucuk-pucuk dedaunan yang mulai basah. Gerimis menderas, menggerus tuntas tunas yang dahaga akan siramannya. Dari kejauhan kudengan kokok ayam jantan yang bernyanyi riang. Aku heran, selama ini tak pernah sekalipun dia berhenti bernyanyi. Entah hujan, dingin, tak ada mentari, dia tetap bernyanyi. Aku heran, jangan-jangan dia mulai gila, hingga sudah mati rasa. Penasaran ini mulai menyergap, membuatku diam-diam menginipnya di balik kandangnya.

Mati aku. Rasanya malu ketika kudapati dia memergokiku yang sedang mengintipnya berndendang riang.

” Apa yang kau lakukan di samping kandangku, wahai anak muda? Kau tahu kan aku bukan ayam betina? Jadi tak ada sebutir telur pun yang bisa aku sumbangkan untukmu?” katanya kepadaku.

Aku terdiam. Lalu bertanya heran kepadanya.

“ Mengapa kau masih saja berdendang riang setiap paginya? Padahal aku tahu, istrimu sudah kusembelih dan kucampurkan pada opor makan malam keluargaku semalaman. Lagipula 3 ekor anak yang kau punya sudah mati terlindas truk tertangga kemarin lusa. Lalu, mengapa kau masih saja bernyanyi, berdendang dan mengucap selamat datang kepada mentari. Kau sudah gila ya? Apa ku perlu mencarikan dokter untukmu?” tanyaku tergesa.

Dia tertawa, terbahak sembari mengepakkan sayapnya. Jenggernya bergoyang-goyang dan ekornya melambai kesana kemari.

”  Aku memang sedih wahai anak muda. Hati dan batinku memang nelangsa karenanya. Aku sendiri, sebatang kara tanpa teman di sisi. Anakku mati, begitu juga tak punya istri. Tetapi aku bisa berbuat apa? Aku bisa saja menyalahkan Tuhan yang membuat truk melindas anakku, atau saja menyalahkan Tuhan yang membuat keluargamu menyembelih istriku. Tetapi inilah hidup, garis kehidupan yang harus aku lalui. Itu mengapa aku memilih bernyanyi dan tertawa, karena setidaknya aku masih bisa membagi arti dan bahagia untuk teman-teman di sekelilingku. Justru karena mereka aku bahagia, justru dengan berkokok pagi-pagi aku bisa merasa berarti. Karena aku, kau tak telat bangun pagi, karena aku, mentari tahu kapan dia harus menampakkan  diri. Kau tahu? Hal itulah yang membuatku masih mampu bertahan.” ujarnya sembari tersenyum memandangku.

Bibirku beku, lidahku kelu. Tak kusangka dia yang harusnya terluka masih bisa tertawa dan memberikan arti untuk orang-orang di sekelilingnya. Menebarkan bahagia dan senyuman pada kelopak-kelopak yang sedang dirundung kesedihan.
” Mengapa engkau harus menangis,nak. Sedangkan aku di sini tertawa. Kau harus bisa menjalani kehidupan yang telah Tuhan gariskan. Setiap orang telah ditentukan jalannya, jadi janganlah sekali-kali kau iri akan apa yang Dia beri pada orang lain. Setiap orang punya ujian kehidupan. Jadi, percayalah, Dia menyanyangimu, sangat.” ujarnya sembari tertawa lebar memandangku.

Aku mengangguk perlahan. Membalas senyumnya. Perlahan tapi pasti kucerna semua nasehatnya. Sesekali kubenarkan juga apa yang dikatakannya.  Hingga akhirnya dalam hati aku berjanji. Tak akan pernah menyembelihnya suatu saat nanti. Akan kubiarkan dia berdendang setiap pagi, sebagai pengingat diri bahwa tak seharusnya aku menangis, sedangkan dirinya mampu tertawa.

=Rani ALzena=

KUE SERABI TERNIKMAT

Di suatu malam nan dingin. Ketika rembulan enggan menampakkan dirinya, aku berjalan menyusuri emper tetokoan. Menerobos pekatnya malam untuk bernostalgia dengan kota Yogyakarta. Orang bilang kota ini adalah kota yang eksotis, penuh dengan sejuta peristiwa dan selaksa makna. Begitu juga denganku, kota ini telah berhasil menyajikan kenangan manis, semanis gula-gula kegemaranku waktu masih belia dahulu. Legit, dan sungguh menyenangkan.

Kuhentikan langkah ketika melihat seorang nenek tua yang duduk di pojokan jalan berteman panci adonan dan tungku pembakar. Aku mendekatinya. Hmm, nenek itu menjual kue serabi kegemaranku. Aku tertarik mencicipinya. Yah, cuaca yang dingin seperti ini memang lebih lengkap jika diselingi yang hangat-hangat. Suatu bentuk pepaduan rasa yang akan menenangkan jiwa.

Serabine kaleh nggih ,mbah1)
 Nggih neng, di dhahar mriki?” 2)

Aku mengangguk.
Sembari menunggu serabi pesananku, aku tergelitik untuk memandangi wajah tua yang penuh keriput itu. Dia sendirian, tanpa seorang pun teman. Dengan perlahan dituangkannya adonan tepung beras ke dalam cetakan berbentuk lingkaran. Diaduk-aduknya perlahan lalu ditutupnya dan kemudian dia diam, menunggu hingga matang. Matanya memandang nanar  seperti mencari-cari munculnya gemintang.

 Malam itu bayu berhembus cukup kencang, membelai lembut setiap jiwa yang dilewatinya. Aku bergidik, rasanya dingin menjelajahi setiap sendi dan tulangku. Tetapi wanita tua itu tak bergeming, dia masih saja asyik menjelajahi setiap sudut jejalanan yang mulai lenggang. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi dia terlihat begitu menikmatinya.

Putrane pinten mbah ?” 3) tanyaku memcah keheningan.
Tigo neng.” 4) jawabnya.
Lha simbah sadeanipun piyambakan ?” 5)
Dia mengangguk.
Anak kulo sampun merdamel sedanten dateng Jakarta, boten datheng griyo.” 6)
Mboten ndherek putranipun kemawon mbah? Kan boten usah sadean dalu-dalu kados mengaten? 7)
Dia menggeleng.
Mboten neng. Kulo boten purun ngrepoti anak-anak kula. Mireng piyambakipun sampun sukses kemawon kulo pun remen” 8)

Aku terharu, lidahku kelu. Siapa sangka seorang penjual serabi di depanku ini mempunyai tiga orang yang menjadi pengusaha sukses di kota Jakarta. Dan dia lebih memilih untuk tidak merepotkan anak-anaknya, tinggal di gubuk kecil seorang diri dan hidup dari berjualan serabi.

Bagi dirinya, apa yang dia lakukan untuk membesarkan anak-anaknya selama ini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan untuknya. Sesuatu hal yang sangat dinikmatinya, walaupun dia haus menjadi tulang punggung utama sejak suaminya meninggal dunia. Tak pernah sedikitpun terfikir olehnya untuk menerima sedikitpun imbalan atas jerih payahnya.

Aku memandang langit yang mulai kelam. Entah mengapa, ada rasa menyeruak di dalam hatiku. Ayah, ibu, kakak, adik,  sahabat, keluarga, dan teman-temanku. Sedang apa kalian di sana? Sudahkah kalian bangga dengan diriku? Dan seberapa berartinya aku buat kalian? Aku mendesah. Sepertinya yang terjadi sebaliknya, aku yang selalu merepotkan kalian. Mengeluh gaduh akan getirnya kehidupan.

Aku teringat beberapa hari yang lalu ketika meminta motor kepada orang tuaku. Dan ketika mereka tidak mengabulkan keinginanku, amarahku muncul begitu mudahnya. Jiwaku menuntut bahw sudah seharusnya mereka mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya,  bagaimanapun keadaannya. Padahal yang terjadi, bukannya mereka tak mau menuruti keinginanku, tetapi mereka tidak mampu. Gaji ayah yang tidak seberapa, ditambah dengan gaji ibu yang tidak menentu. Ah, ayah, ibu. Maafkan aku. Bukannya meringankan bebanmu, aku malah selalu merepotkanmu.


Aku pun teringat kejadian kemarin, belum sembuh luka karena pertengkaranku dengan Dian, sahabat kentalku sejak aku masih belia. Hanya karena nilaiku yang lebih tinggi darinya dia menghindar dariku. Padahal selama ini aku selalu menolongnya, membantunya mengerjakan tugas-tugasnya. Alih-alih mengucapkan terima kasih, yang ada malah umpatan cacian bukannya rasa setia kawan. Ah, mengapa dunia ini penuh dengan manusia tak tahu balas budi. Aku mendengus.

Tetapi malam ini, hatiku terketuk. Jiwaku berdetak. Nenek tua ini seharusnya berhak untuk mendapatkan hasil dari jerih payahnya menghidupi anaknya selama ini. Dia berhak hidup enak, mewah, dan berkecukupan. Tetapi mengapa dia lebih memilih sendiri? Sebegitu besarkah rasa cinta kasih seorang Ibu kepada anak-anaknya? Ibarat sebuah sungai yang tak henti-hentinya memberikan air kepada lautan?

 Ah, aku malu-benar-benar malu. Ketimbang diriku, nenek tua ini lebih berhak mendapatkan semua kenikmatan hidup. Tetapi dia tidak menuntut, malahan dia senang walaupun hidup memprihatinkan. Tidak tebersit sedikitpun penyesalan telah membesarkan anak-anak yang tidak tahu balas budi itu.  Ah, betapa malunya aku. Aku bukan apa-apa dibanding nenek penjual serabi itu.

Aku menerima semangkuk serabi yang disodorkan nenek itu. Yah, serabi adalah makanan kesukaanku. Percampuran antara tepung beras yang tidak berasa dengan kuah gula jawanya yang amat manisnya menciptakan sebuah filosofi bahwa untuk menghasilkan kue serabi yang enak, kedua bahan itu harus saling melengkapi. Begitu pula kehidupan, akan lebih berwarna dan terasa bermakna jika bisa saling melengkapi, saling mengisi kekurangan dan juga kelebihan.

Aku masih asyik menyeruput kuah gula jawa. Orang di Yogyakarta lebih suka menyebutnya ”juruh”. Sepintas kupandangi lagi nenek tua di sebelahku, dan aku terkejut ketika kudapati dirinya yang sedang membaca hafalan doa walau dengan terbata-bata dan hanya bisa membaca dari tulisannya di bawah lampu kota yang berpijar temaram.

Lagi, aku tercekat. Setua itu, sang nenek masih bersemangat belajar. Di saat orang-orang seumurannya telah menyerah karena merasa telah ”bau tanah”, nenek ini malah semakin yakin bahwa belajar itu tidak pandang usia.

 Aku tertunduk. Rasa malu benar-benar menguliti diriku, Habis tak bersisa. Diriku yang masih muda hanya mengenal foya-foya, meminta, dan tidak pernah berusaha. Untuk sembahyang saja pun begitu susahnya. Nanti sajalah kalau sudah tua, selalu begitu fikirku. Padahal diriku tahu, umur dan kematian bukanlah urutan kacang. Yang tua belum tentu mendahului yang muda, begitu sebaliknya.

Jalanan semakin lenggang tanpa terasa habis sudah serabiku tanpa sisa. Segera kusodorkan beberapa lembar uang ribuan kepada nenek penjualnya. Serabi dan nenek tua itu mengajariku akan hidup yang indah. Hidup tanpa mengharap kata ” terimakasih” ataupun balas budi. Dia mengajariku untuk melakukan kebaikan untuk dilupakan, dan melakukan kesalahan untuk diingat agar tidak terulang di kemudian hari. Dia juga mengajarkan kepadaku, bahwa menuntut ilmu itu tak kenal waktu. Ah, indahnya hari ini. Memperoleh pelajaran yang begitu berarti. Terimakasih mbah, serabimu adalah santapan jiwaku yang paling nikmat.

Lebih baik kuterima 1 kata terimakasih dari hati
Diantara 1000 kebaikan yang kulakukan
Daripada aku menerima 1000 terimakasih
Tetapi hanya sebuah kata basa basi....

Keterangan :
1) Serabinya dua ya, mbah (Mbah : sapaan untuk orang lanjut usia di Jawa)
2) Iya neng, dimakan di sini?
3) Anaknya berapa, Mbah?
4) Tiga, Neng.
5) Lha simbah jualannya sendirian?
6) Anak saya sudah bekerja semua di Jakarta, tidak di rumah.
7)Tidak ikut anaknya saja, Mbah? Kan tidak usah berjualan malam hari seperti ini?
8) Tidak, Neng. Saya tidak mau merepotkan anak-anak saya. Mendengar mereka sudah sukses saja saya sudah senang.